PERMULAAN DAN PERKEMBANGAN TEOLOGI
PERJANJIAN LAMA
Teologi
perjanjian lama tidak pernah terlepas dari teologi alkitabiah dan telah
mengalami perkembangan, yaitu:
a. Sejak
reformasi hingga pencerahan
Prinsip golongan
Protestan “sola scriptura” (hanya
dengan alkitab saja) menjadi sorak peperangan dari gerakan reformasi terhadap
teologi skolastik dan tradisi kekuasaan gereja dengan memberikan sumber
perkembangan teologi alkitabiah dalam penafsiran alkitab (sui ipssius). Teologi alkitabiah dipakai dalam dua arti, yaitu
1)sebuah teologi yang ajarannya bersumber dan berdasarkan alkitab saja; 2)
teologi yang dikandung oleh alkitab itu sendiri.
Hermeneutika Luther “sola scriptura” serta prinsipnya “was Christum treibet” dan juga dualisme
antara isi dan jiwa menghalanginya untuk mengembangkan teologi alkitabiah. Kemudian dikembangkan oleh O. Glait dan Andreas
Fischer, kemudian Walfgang Jacob Christman dalam bukunya yang berjudul Teutsche Biblische Theologia, kemudian
abraham Calovius yang dikenal dengan teologi
eksegetika. Namun penekan dari kaum Pietisme (pendiri Philip Jacob Spener)
telah mengubah arah teologi alkitabiah sebagai suatu alat reaksi terhadap sifat
ortodoks Protestan yang kering sehingga pada akhirnya membawa pemisahan antara teologi sistematik dengan teologi alkitabiah. Pemisahan kedua
teologi tersebut mendapat pengaruh rasionalisme pada zaman pencerahan.
b. Zaman
pencerahan (Aufklarung)
Pada zaman pencerahan
terdapat cara penelaah alkitab yang berbeda yang dipengaruhi oleh reaksi
rasionalisme terhadap supernaturalisme dan metode penelitian sejarah
(liberalisme) serta penggunaan kritik sastra radikal terhadap alkitab yaitu
menganggap alkitab sebagai dokumen sejarah sebab tidak semua bagian alkitab
diilhamkan. Von Ammon menganggap bahwa Perjanjian Baru lebih tinggi dari
Perjanjian Lama. Jadi, pada akhirnya teologi alkitabiah disesuaikan dengan
zaman dan sangat berkaitan ketat dengan sejarah sesuai dengan kesaksian alkitab
itu sendiri.
c. Dari
zaman pencerahan hingga zaman teologi dialetik
Pada zaman pencerahan
disiplin teologi alkitabiah telah membebaskan diri dari peranannya sebagai
tambahan terhadap dogmatik dan menjadi saingan dari dogmatik. Dalam
perkembangan selanjutnya dipengaruhi oleh filsafat dan penerimaan terhadap
teologi dialektik setelah Perang Dunia I. Kemudian Kaiser dan para sarjana
menggunakan pendekatan “sejarah agama-agama” dan menempatkan semua aspek
alkitabiah dan non alkitabiah lebih rendah dari pada prinsip “agama universal”.
De Wette menggunakan filsafat Imanuel Kant untuk memadukan teologi alkitabiah
dengan suatu sistem filsafat. Namun pada pertengahan abad kesembilan belas,
sebuah konservatif yang sangat kuat menentang pendekatan-pendekatan yang
rasional dan filosofis terhadap teologi Perjanjian Lama dan menolak pendekatan
berdasarkan sejarah.
Oehler percaya bahwa
Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru merupakan satu kesatuan tapi dengan suatu
pengecualian, yaitu Perjanjian Lama hanya berfungsi didalam kanonik luas.
Teologi Perjanjian Lama merupakan suatu ilmu sejarah yang berdasar pada
eksegese dari sudut sejarah tata bahasa yang tugasnya adalah mereporduksi isi
dari tulisan-tulisan dalam alkitab menurut kaidah-kaidah bahasa dengan
mempertimbangkan keadaan sejarah pada tulisan-tulisan tersebut pertama kali
ditulis dan juga kondisi pribadi dari para penulis pada saat itu juga.
Pada tahun 1878
kemenangan pendekatan berdasarkan “sejarah agama-agama” (Religionsgeschichete) yang diterbitkan oleh J. Wellhausen yang
dipengaruhi oleh 1) tanggal lama yang diberikan pada dokumen P 2) perkembangan
sejarah agama Israel atas dasar tanggal berikan oleh mazhab. Pendekatan Religionsgeschichete telah mengaburkan
Perjanjian Lama sebagai bahan koleksi dan lebih rendah tingkatannya dari pada
Perjanjian Baru.
d. Kebangunan
kembali teologi Perjanjian Lama
Setelah perang Dunia
I terdapat banyak faktor Zeutgeist yang mebawa kebangunan kembali
teologi Perjanjian Lama, yaitu 1)hilangnya pamor naturalisme evolusioner,
2)reaksi terhadap kebenaran historis yang dicapai melalui objektivitas ilmiah
murni, 3)kecenderungan kembali pada ide penyataan di dalam teologi diakletik.
O. Eissfeld mengatakan bahwa Perjanjian Lama merupakan bidang disiplin yang
non-historis, ditentukan oleh posisi iman sang teolog sehingga bersifat
subjektif padahal studi tentang Israel bersifat historis dan objektif. Eichrodt mengatakan bahwa teologi
Perjanjian Lama sebagai suatu disiplin historis pada hakikatnya adalah baik dan
tidak ada sejarah Israel semacam praduga, sebab suatu unsur subjektif ada
didalam setiap ilmu karena prose seleksi dan pengaturan data tidak mungkin
objektif semata-mata.
Pada tahun 1930-an dan
seterusnya berlangsung sampai sekarang Teologi Perjanjian Lama mengalami
keemasan yang diikuti oleh penyelidikan B.S.Chlids yang berharga tentang
teologi alkitabiah di Amerika dari hasil dua prinsip berlawanan perjuangan
alkitab dalam persengketan antara Fundamentalis dengan Modernis yang
berlangsung tahun 1910-1930.
SEKITAR MASALAH METODOLOGI
Setelah
perang Dunia I muncullah perdebatan yang menyangkut masalah apakah teologi
Perjanjian Lama bersifat deskriptif dan historis atau usaha yang normatif dan
teologis. Sehingga para sarjana mengklasifikasikan teologi Perjanjian Lama
dalam penyusunannya. Dalam karya ilmiah Gabler-Wrede-Stendah
mengenai deskriptif atau normatif mengatakan bahwa teologi alkitabiah bersifat
historis karena mengemukkan apa yang dipikirkan oleh penulis keagaamaan tentang
ilahi. Teologi alkitabiah memisahkan pendekatan deskriptif terhadap alkitab melalui
pendekatan normatif untuk menerjemahkan ayat makna ayat untuk masa kini.
Masalah fundamental terdapat pada ayat yang sedang diselidiki.
Perjanjian
Lama menggunakan metodologi 1) Metodologi
Didaktik-Dogmatik. Pendekatan dari teologi sistematik tentang
teologi-antropologi-soteriologi, namun lebih berfokus kepada Allah sebagai pusat
dari doktrin tersebut; 2) Metodologi
Proresif-Genetis. Pendekatan berdasarkan pembeberan penyataan Allah
sebagaimana disajikan oleh Alkitab berdasarkan perjanjian yang dibuat oleh
Allah dengan Nuh, Abraham, Musa dan melalui Kristus semuanya menunjukkan
“keberadaan organik” dari alktab serta “anatomi” kitab suci; 3) Metode penggunaan contoh yang repsentatif
yang mewakili keseluruhan. Menjadikan dunia pemikiran Perjanjian Lama
sebagai pusat Perjanjian Lama dengan menganggap serius bahwa setiap riset
sejarah yang layak disebut mempunyai elemen yang subjektif; 4) Metode topikal. Menyusun bahan-bahan dan
tema Perjanjian Lama dengan cara dibaca, dirangkum dan disesitematisi yang didasarkan
pada keseluruhan pengalaman sebagai suatu analisis yang menyatu secara palsu
tentang suatu pengalaman sejarah yang memiliki kesatuan inti yang berbeda
dengan kesatuan tulisan yang logis; 5) Metode
diakronis. Membangkitkan pemikiran serta riset baru dalam ukuran yang tidak
tertandingi berdasarkan riset sejarah tradisi dengan menceritakan kembali dalam
bahasan teologis; 6) Metode “Pembentukan
Tradisi” suatu fenomenologi proses-proses pembentukan tradisi untuk
menemukan kesinambungan dan kesatuan tidak lagi di dalam Allah yang sama tetapi
di dalam suatu ontologi proses hidup tertentu yang berkesinambungan; 7) Metode Dialektis-Tematik. Tema
perjanjian menuju tema “kehadiran ilahi” sebagai tema dominan dalam gereja yang
dinyatakan Allah dalam tindakan dan Firman-Nya sedangkan manusia dinyatakan dalam
perkataan dan perbuatan; 8) Metode
“Metode Alkitabiah Baru” menyoroti masalah-masalah metodologis yang belum terpecahkan; 9) Teologi Perjanjian Lama yang kanonik
multipleks. Teologi Perjanjian Lama yang kanonik berisi
penjelasan-penjelasan dan penasiran berdasarkan prosedur pendektan multipleks.
Teologi Perjanjian lama diurutkan berdasrkan penekanan dua cabang teologi kitab
perkitab atau rangkaian tulisan dan tema, motif dan konsepsi-konsepsi yang
dihasilkan dari pembahsan berbagai segi dengan memakai suatu pendekatan
unilinear. Teologi Kristen harus mengerti bahwa Perjanjian Lama merupakan
bagian dari suatu keseluruhan yang lebih luas dengan membedakan disiplin teologi dari Israel.
MASALAH SEJARAH, SEJARAH TRADISI
DAN SEJARAH KESELAMATAN
Menurut
Von Rad Sejarah Israel yaitu sejarah
berdasarkan penelitian modren dan sejarah yang dibangun oleh iman Kristen
melalui gambaran kerigmatik (tentang sejarah Israel yang dibangun oleh imannya)
dan kesaksian-kesaksian. Meskipun demikian Israel hanya dapat memahami
sejarahnya sebagai sebuah jalan yang dilintasi dengan tuntutan Yahweh. Von Red
beranggapan bahwa gambaran kerigmatik tidak berhubungan dengan sejarah dan
gambaran berdasarkan penelitian sejarah dengan kedua gambaran Israel dapat
berdiri sejajar dengan teologi Perjanjian Lama, dengan cara menguraikan
kerigmatik dan mengabaikan penelitian sejarah. Pandangan tersebut mendapat
pertentangan dari Franz Hesse, sehingga ia melawan pandangan Von Red dengan
sebuah tesis yang berisi bahwa iman haruslah didasarkan pada apa yang
benar-benar terjadi bukan yang diakui terjadi. Hesse mengatakan bahwa hanya
sejarah Israel yang dihasilkan oleh penelitian sejarah yang relevan secara
teologis. Dalam apa yang dialami, diderita Israel selama berabad-abad didalamnya
terdapat sejarah keselamatan. Sejarah keselamatan ada didalam, dengan dan
dibalik sejarah Israel, ada Allah yang menuntun kepada tujuan-Nya yaitu keselamatan
didalam Yesus Kristus.
Walther
Eichrdt dengan keras menolak pendapat Von Rad yang mengadakan dualisme atas
kedua gambaran sejarah Israel yang membuyarkan
“sejarah Israel yang benar” menjadi “puisi religius” sebab ia membuat jurang
antara fakta-fakta lahiriah dan sejarah penyelamatan dalam Perjanjian Lama
dengan “kejadian dalam batin yang menentukan” yaitu penguasaan batiniah oleh
campur tangan Allah terhadap roh manusia. Jadi Eichrodt mengatakan bahwa kepercayaan
terhadap kesaksian Alkitab tentang fakta-fakta sejarah terdapat sebuah
perjanjian dan keselamatan yang membuat iman memiliki kuasa.
Baum
Gartel menanggapi pendapat Von Rad yang menyatakan bahwa secara historis
Perjanjian Lama memiliki kedudukan yang lain dari agama Kristen karena tindakan
Israel diterima begitu saja dan relevan bagi gereja Kristen. A. Weiser dan Hampel melihat realitas
sejarah dan pengungkapan kerigmatik, fakta dan penafsiran membentuk suatu
kesatuan Perjanjian Lama. Penberg memperluas pengertian sejarah keselamatan dan
menjadikannya identik dengan sejarah universal di dalam kesatuan sang Allah
yang bekerja untuk menepati janji-janjiNya. Kraus menunjukkan bahwa salah satu
masalah yang paling sulit dari hal memperoleh dan menyajikan teologi alkitabiah
adalah titik tolaknya, makna dan fungsi penelitian sejarah.
Menurut
Gerhard F. Hasel tidak mungkin mendasarkan “sejarah keselamatan” pada metode
penelitian sejarah “Hesse” dan tidak mungkin memperluas metode penelitian
sejarah sedemikian rupa sampai realitas mutlak dapat nyata melaluinya karena
penyesuaian besar yang berbau prasangka dan filosofis yang harus dibuat akan mengubah
metode ini secara demikian radikal sehingga sifatnya yang berkaitan dengan
penelitian sejarah sebagaimana biasanya dipahami akan hilang. Dikotomi modren telah
memecah sejarah Israel dengan pengaruh-pengaruh
yang begitu ketinggalan zaman dan meragukan seperti positivisme dan
neo-kantianisme. Jadi, harus bekerja dengan suatu metode yang memperhatikan
keseluruhan sejarah itu dengan mengakui kesatuan asli dari fakta-fakta dan
maknanya serta suatu konsepsi tentang realitas mutlak yang memadai.
PUSAT PERJANJIAN LAMA DAN TEOLOGI
PERJANJIAN LAMA
Bagi
Eichrodt konsepsi pusat teologi Perjanjian Lama adalah perjanjian sebagai suatu
doktrinal dan sebagai sebuah konsepsi pemersatu. Sedangkan G. Fohrer menanggapi
bahwa perjanjian antara Yahweh dengan Israel tidak memainkan peran apa-apa
dalam kehidupan Israel. E. Sellin memilih kekudusan Allah sebagai ide pokok
untuk menuntunnya dalam paparan teologi Perjanjian Lama dan kepada kedatangan
Yang Kudus dalam penghakiman dan keselamatan yang keduanya berasal dari
kekudusan Allah. Bagi Kohler sendiri memilih Allah sebagai Tuhan, sebab
kekuasaan Allah sebagai pemimpin dan raja hanya akibat wajar ketuhanan Allah,
sedangkan Hans Wildberger menunjukkan
konsepsi pusat dari Perjanjian Lama ialah pemilihan Israel sebagai umat
pilihan. Vriezen lebih memilih Allah sebagai pusat Perjanjian Lama dan
hubungan-Nya kepada manusia dan dunia.
Smend
berkata bahwa Perjanjian Lama berpusat pada Allah dan untuk mengatuhinya harus berlandaskan
pada pusatnya yaitu Allah. Para nabi bernubuat sebagai puncak prestasi yang
mereka peroleh yaitu menangkap kembali
iman dimensi yang didalamnya Yahweh telah menyatakan diri-Nya secara paling
baik didalam sejarah dan politik. Orientasi penyelamatan masa lampau dijadikan
sebagai tindakan dimasa depan untuk mengakhiri konsepsi-konsepsi sejarah.
Berbagai
filosif dari teologi skolastik pada abad pertengahan berada dalam praduga oleh
alasan-alasan yang menyatakan bahwa sifat multipleks bahan Perjanjian Lama yang
sangat beraneka ragam akan cocok diatur dengan memakai pusat. Namun harus
diakui bahwa tidak ada tema tunggal yang cukup komprehensif yang didalamnya
mencakup segala ragam pandangan tersebut. Sehingga pada akhirnya para teolog
memilih untuk mengsistematiskan bahan-bahan alkitab dengan skema Allah-Manusia-Keselamatan
yang dipinjam dari teologi sistematika atau dogmatika. Para teolog juga
menyepakati bahwa Allah adalah pusat dari Perjanjian Lama, sama seperti di
Perjanjian Baru yang berpusat pada Kristosentris. Allah menyatakan diriNya
dengan penyataan sifat yang terealisasikan dalam tindakan yang berkaitan dengan
dunia dan manusia, alam dan sejarah. Allah adalah landasan penyusunan sebuah
teologi Perjanjian Lama dan firman-Nya sebagai kitab terbuka yang memberikan
kesaksian mengenai Allah sebagai pusat serta karya keselamatan dan
penghakiman-Nya terhadap Israel dan dunia.
HUBUNGAN ANTARA KEDUA PERJANJIAN
Pada
tahun 1797 terbit buku Theologie des
Alten Testament karangan Georg
Lorens Bauer, yang pada akhirnya menimbulkan persoalan-persoalan tentang
kesinambungan dan keadaan tidak bersambung terhadap hubungan Perjanjian Lama
dan Perjanjian Baru serta cara mempelajarinya sebagai suatu kesatuan atau
perpecahan. Beberapa sarjana mempermasalahkan hubungan keduanya, dengan
menunjuk Perjanjian Lama sebagai sebuah kitab non-Kristen.
Oleh
pencarian Rudolf Bultman untuk mencari kaitan keduanya dalam kurun waktu
sejarah Israel, dengan menetapkan Perjanjian Lama sebagai sejarah kegaggalan
dan akhirnya berubah menjadi janji. Perjanjian Lama yang diadakan oleh Allah
kepada Israel hanya sebuah perkiraan tentang Perjanjian Baru, bukan penyataan
sebagaimana orang Israel itu sendiri. Hubungan keduanya tidak relevan secara
teologis walaupun Perjanjian Lama memiliki sifat menjanjikan, oleh karena
kegagalan tersebut.
Keyakinan
Bultman dan Friedrich Baumgartel yang
berpandangan bahwa Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru tidak memiliki hubungan.
Meskipun Baumgartel tidak mengikuti tesis Bultman tentang kegagalan total,
karena ia beranggapan bahwa ada sebuah janji dasar yang abadi sehingga ia
memilih untuk mempertahankan pendapatnya tentang hubungan Yesus Kristus dengan
sejarah yang tidak berlandaskan pada Perjanjian Lama sepenuhnya melainkan pada
penjelmaan.
Franz
Hesse mantan murid Baumgartel membuat penyerdehanaan yang sama dari banyak
janji menjadi janji dasar tunggal. Janji pada Perjanjian Lama ditinggalkan
sebab Israel berkeras hati terhadap firman Allah, dimana Firman itu pada
akhirnya mencapai puncaknya pada salib Kristus.
Wilhelm
Vischer menginginkan agar eksegese Perjanjian Lama didominasi oleh Perjajian
Baru, dengan demikian Perjanjian Lama menjadi sangat penting. Dalam
dialektik yang ketat “Perjanjian Lama
menafsirkan Perjanjian Baru dan Perjanjian Baru menafsirkan Perjajian Lama” dan
pusat perhatian Alkitab adalah kerajaan Allah, bukan pendamaian dan penebusan.
Perjanjian lama hanya bisa dipahami melalui peristiwa Kristus yang mencakup
sejarah Perjanjian Lama dan menunjukkan kembali kepada kesaksian-kesaksian yang
ada.
Pendekatan
Kristlogis –teokratis terhadap kesatuan perjanjian menghasilkan
kesulitan-kesulitan karena pendekatan tersebut mempersingkat dan sebenarnya
menghapus kesaksian alkitab. Mengingat beberapa pertimbangan yang ada, maka
jalan satu-satunya yang memadai untuk
mengatasi sifat multipleks dari hubungan antara kedua perjanjian adalah
menggunakan pendekatan multipleks, yaitu pendekatan yang menggunakan pemakaian
tipologi secara sangat berhati-hati dan teliti, memakai ide penggenapan janji
dan juga secara hati-hati memakai pendekatan Heilsgeschechte (sejarah keselamatan). Pendekatan ini menuntun pada
pengakuan akan adanya kesamaan dan perbedaan, lama dan baru, kesinambungan dan
keadaan terputus tanpa mengubah sedikitpun kesaksian sejarah dan makna harafiah
aslinya dan juga tidak kurang dalam konteks dan maksud kerigmatik yang lebih
luas mengenai Perjanjian Lama yang memberikan kesaksian.
Para
ahli teologi Perjanjian Lama memiliki perbedaan pendapat tentang hubungan
keduanya. Untuk itu pendekatan
multipleks melalui pola hubungan historis dan teologis antara kedua perjanjian
adalah sebagai berikut: 1) memiliki sejarah yang berkesinambungan dari umat
Allah dan perbuatan Allah bagi umat manusia; 2) hubungan antara kedua
perjanjian dapat dilihat melalui kutipan-kutipan Alkaitab; 3) pemakaian makna
teologis pada Perjanjian Baru diambil dari suatu kata Ibrani yang telah lama
untuk dikembangkan; 4) tema utama keduanya memiliki persamaan dan dengan cara
tertentu dilanjutkan dan diselesaikan disitu; 5) pemakian tipologi yang
hati-hati dengan suatu metodologi yang memadai untuk menyelesaikan sejarah
antara kedua perjajian; 6) kategori janji atau nubuatan dan penggenapan
menjelaskan suatu aspek lain dari hubungan timbal balik antara kedua
perjanjian; 7) konsepsi sejarah keselamatan yang menyatukan kedua perjanjian,
dari Adam dosa bergerak kepada seluruh umat mansuai lewat Abraham sampai pada
Kristus didalam penggenapan yang penuh kemuliaan.[1]
SARAN-SARAN POKOK UNTUK MEMBUAT
TEOLOGI PERJANJIAN LAMA
Ada
beberapa saran-saran pokok mengenai Teologi Perjanjian Lama berdasarkan
kritikan dan jalan yang ditempuh oleh para ahli dalam membuat teologi
Perjanjian Lama, yaitu:
1. Teologi
alkitabiah harus dipahami sebagai sebuah disiplin yang bersifat
historis-teologis dengan menguraikan apa makna asli dari ayat yang diselidiki
dan artinya bagi masa kini.
2. Teologi
alkitabiah harus menggunakan metode yang bersifat historis dan teologis sebagai
hasil dari disiplin historis-teologis. Sejarah dapat dijelaskan dan diterangkan
melalui sejarah peristiwa-peristiwa sejarah sebelumnya dan dipahami dari sudut
analogi dengan pengalaman-pengalaman
sejarah lainnya.
3. Ahli
teologi alkitabiah yang terlibat dalam teologi Perjanjian Lama menunjukkan
pokok persoalannya terlebih dahulu karena usahanya merupakan teologi Perjanjian
Lama yang materinya berasal dari Perjanjian Lama. Dengan demikian harus memperhatikan
latar belakang sejarah, budaya dan sosial untuk mengungkapkan makna ayat-ayat
yang terpisah serta asal mula tulisan, isinya, bentuknya serta maksud
penulisannya dan maknanya yang beraneka ragam. Hal tersebut dipengaruhi oleh
kebudayaan pada zaman purbakala pada
daerah Timur Dekat Kuno.
4. Penyajian
teologi-teologi dari kitab-kitab atau kelompok tulisan dalam Perjanjian Lama.
5. Teologi
Perjanjian Lama tidak hanya mengetahui teologi dari berbagai kitab atau
kelompok kitab, tapi berusaha juga untuk mengumpulkan dan menyajkan tema-tema
utama Perjanjian Lama.
6. Teologi
Perjanjian Lama memperoleh teologinya melalui kitab-kitab yang terpisah dan
kelompok tulisan dan memberikan tema-tema yang longitudinal.
7. Teologi
Perjanjian Lama yang integral menunjukkan hubungannya yang mendasar dengan
Perjanjian Baru atau dengan teologi Perjanjian Baru.
Comments
Post a Comment