PENYINGKAPAN
DIRI ALLAH
Titik
pusat penyingkapan Allah dalam PL adalah
Allah menyatakan pribadi dan sifat-Nya kepada umat-Nya untuk dapat diketahui
segala perbuatan-perbuatan-Nya yang besar. Penciptaan Allah merupakan
pengungkapan diri-Nya untuk membentuk keakraban dan menyatakannya sebagai
pengungkapan yang layak dengan menyebutnya “sungguh amat baik” (Kej. 1:31).
Ketika manusia jatuh dalam dosa, manusia berusaha menyembunyikan diri dihadapan
Allah, sehingga Dia berinisiatif mencari dan menyakan keberadaan Adam dan Hawa
(Kej 3:9). Pernyataan Allah tersebut bukanlah suatu permintaan untuk meminta
informasi melainkan suatu usaha membawa mereka kembali kepada Allah. Dari
semula reaksi Allah terhadap dosa manusia menyatakan kemurahan-Nya, sebab Allah
tidak menghendaki kematian orang berdosa melainkan kehidupan. Penyingkapan
Allah kepada manusia terus progeresif disaat Ia memanggil Abraham, namun
didalam panggilan tersebut ada janji dan dimensi moral “hiduplah dihadapan-Ku
dengan tidak bercela (Kej 17:1)” tanggapan Abraham terhadap panggilan Allah
merupakan suatu contoh normatif bagi orang beriman yang terus meningkat sampai
pada tingkatan yang lebih tinggi atau canggih (Ibr. 11:8-12).
Allah
berfirman kepada Musa “Aku Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak, Allah
Yakub” dan memberitahu nama-Nya “AKU ADALAH AKU atau AKU ADALAH YANG AKU ADA”
untuk menyatakan keberadaan-Nya dan sekaligus jaminan akan diri-Nya sendiri
kepada Musa. Allah menyatakan diri Kepada Musa dan seluruh bangsa Israel
melalui peristiwa mereka keluar dari Mesir, di Padang Gurun dan diperkuat
dengan pemberian hukum taurat untuk memperjelas hubungan tersebut. Allah selalu
menyatakan diri-Nya melalui sifat-sifatNya kepada manusia, sebab pernyataan diri Allah dengan
lengkap dan jelas tidak bisa dilihat oleh manusia berdosa.
Penyingkapan
diri Allah terus berlanjut sepanjang Perjanjian Lama terutama kepada para nabi
melalui penglihatan sebagai bukti bahwa Dia transenden, dimana kepribadian-Nya
berada diluar batas penegertian dunia. Disatu sisi Allah beserta manusia dan
begitu dekat, namun disisi lain Allah
menunjukkan Dia berbeda. Jadi Allah menyatakan diri untuk membuat manusia
taat dan berimana kepada-Nya, meskipun
manusia selalu sibuk untuk menjauhkan diri dari Allah. Itulah sebabnya hukum
harus mengikuti perjanjian, sebagai sarana untuk memudahkan terjalinnya
hubungan dan penyingkapan yang bersifat menebus.
SIFAT-SIFAT
DASAR ALLAH
Sifat
Allah yang transenden yang membuat orang tidak bisa lari dari hadapan-Nya. Keberadaan-Nya
yang ada pada setiap tempat dan setiap saat merupakan suatu bukti bahwa Dia
mempunyai kebebasan dan menggunakan suatu objek sebagai sarana kehadiran-Nya.
Ada beberapa saran penyingkapan diri Allah, yaitu:
a. Malaikat Tuhan.
Bila malaikat Tuhan hadir, maka terasa juga kehadiran Allah yang bersifat
melindungi atau menakutkan (Kel. 32:24; II Sam. 24:16).
b. Wajah Allah.
Allah menampakkan wajah-Nya sebagai bukti kemuliaan-Nya kepada Musa (Kel.
33:20). Wajah Allah dalam arti kiasan diartikan sebagai berkat Allah (Bil.
6:25).
c. Kemualiaan Allah.
pikiran pokok tentang kemuliaan Allah adalah hakikat yang terlihat. Kemuliaan
dapat diartikan sebagai penunjuk kehormatan dan membangkitkan rasa hormat.
d. Antropomorfisme.
Allah sering disebutkan dalam istila-istilah manusiawi seperti berfirman (Kej.
1:3), bercakap-cakap (Im. 4:1), mendengar (Kel. 16:12), melihat (Kej. 1:4),
mencium (I Sam. 26:19), mempunyai wajah (Bil. 6:25) sebagai bukti bahwa Allah
mengambil bagian dalam dunia manusia, sebab diciptakan sesuai gambar dan rupa
Allah. Pengungkapan Allah akan diri-Nya memberikan pemahaman akan Dia, bahwa Ia
dapat dihampiri meski tetap memelihara kemegahan-Nya.
Ada
beberapa watak Allah,yaitu 1) Allah
adalah seorang pribadi karena memberi nama kepada diri-Nya sendiri untuk
bersektu kepada manusia. Allah memberitahu nama-Nya untuk memberitahu bahwa Dia
hadir ditengah-tengah umat-Nya dan sebagai campur tangan-Nya yang dinamis dalam
kehidupan manusia, seperti kata El,
Yahweh, Tuhan Sabboth, Melek: 2)Allah adalah Roh karena Ia adalah sumber
kehidupan dan keberadaan-Nya tidak dibatasi oleh apapun; 3) Allah itu Esa:
monoteisme.
Comments
Post a Comment