Pendahuluan
Alkitab ditulis oleh beberapa
penulis yang berbeda latar belakang, budaya, pendidikan dan zaman yang berbeda.
Secara
keseluruhan Alkitab ditulis lebih dari 40 penulis dari berbagai latar belakang.
Isi Alkitab diberikan dengan perantaraan manusia dan tanpa mengurangi
keberadaan manusia tersebut, Alkitab dituliskan ulang dan diterjemahkan oleh
manusia. Penulisan seluruh Alkitab terjadi dalam kurun waktu lebih dari 1500
tahun, yaitu mulai jaman Musa hingga abad pertama masehi, namun demikian kita
memahami Alkitab sebagai satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh[1].
Para penulis Alkitab hidup di negeri dan pengalaman yang berbeda, mereka tidak
dalam satu generasi sehingga tidak pernah mengadakan pertemuan, konsultasi,
konferensi atau semacam suatu persetujuan atau kesepakatan dalam penulisan
Alkitab. Alkitab ditulis dalam periode yang cukup panjang, memakan waktu kurang
lebih seribu enam ratus tahun, maka fenomena tersebut Alkitab terus diselidiki
dan dipermasalahkan oleh banyak kalangan.
Masalah bibliologi mendapat perhatian secara
istimewa dari para teologi akhir abad ke-19 hingga sekarang ini. Pada akhir
abad ke-19 kritik tinggi liberal mencapai puncaknya, secara khusus yang menjadi
perdebatan hingga kini adalah apakah Alkitab berstatus “mungkin salah: atau
tidak mungkin salah[2]. Sejarah Alkitab
bukanlah terutama catatan tentang manusia yang mencari Allah. Sejarah Alkitab
lebih merupakan catatan tentang pernyataan Allah kepada manusia. Kitab suci
adalah pernyataan Allah sendiri kepada manusia, yang memberi tahu bagaimana
awal zaman Allah telah berfirman kepada Adam dan Hawa di taman Eden.
Arkeologi menjelaskan bahwa banyak bagian Alkitab yang
sudah lama dan membingungkan para penafsir, akhirnya dapat dimengerti berbagai
keterangan baru dari berbagai temuan arkeologis dipusatkan pada bagian-bagian
Alkitab tersebut. Dengan kata lain, arkeologi memperjelas teks Kitab Suci dan
dengan demikian memberi sumbangan yang berharga di bidang penafsiran Alkitab.
Di samping itu, arkeologi telah meneguhkan banyak sekali bagian Alkitab yang
telah ditolak oleh para adanya para kritikus menolak Alkitab karena mereka
menganggap bahwa Alkitab tidak sesuai dengan sejarah atau pertentangan dengan
kenyataan-kenyataan yang ada. Aspek arkeologi merupakan bagian berharga dari
pembelaan Kitab Suci, suatu disiplin ilmu yang dikenal sebagai Apologetik,
secara singkat dapat dikatakan dua fungsi utama arkeologi Alkitab adalah
sebagai penjelasan dan konfirmasi Alkitab.
POKOK PERMASALAHAN
Alkitab adalah wahyu Allah
kepada manusia yang berisi pernyataan-penyataan tentang Allah dalam relasinya
dengan manusia. Namun apa yang mendasari Alkitab dapat dipercayai sebagai Firman
Allah? Oleh sebab itu banyak
pandangan yang meragukan kebenaran Alkitab dan menolak ketidaksalahan Alkitab .
Tujuan
Berdasarkan
latar belakang masalah tersebut, maka tujuan penulis ialah untuk menyatakan
bahwa Alkitab yang tidak diragukan kebenarannya (ineransi Alkitab) dan
mengatasi keraguan yang mempertanyakan apakah benar Alkitab adalah Firman
Allah.
Alkitab
Allah adalah firman Allah yang telah terdokumentasi sedemikian
rupa sehingga membentuk sebuah kitab yang lengkap, yang dikumpulkan dari
teks-teks kuno yang kanonik. Alkitab adalah
penyataan khusus, dimana manusia dapat mengenal Yesus dengan benar. Allah
memperkenalkan diri-Nya supaya dapat dikenal manusia melalui Alkitab. Alkitab
berbicara tentang Allah dan karya-karya-Nya. Allah memakai Alkitab untuk
menyatakan diri-Nya kepada manusia. Manusia dapat mengenal karakter Yesus
melalui Alkitab yang mereka pelajari dan alami dalam kehidupan. Maka secara
singkat dikatakan bahwa Alkitab adalah catatan yang objektif dari wahyu Allah
yang inskripturasinya dikerjakan oleh Roh Kudus yang menggerakan para penulis
supaya berita tentang keselamatan Allah melalui Yesus Kristus dapat disampaikan
kepada semua umat manusia. Alkitab adalah Firman Allah yang berkuasa
adalah penting.
Seperti halnya apabila kita hendak berbicara tentang
Allah, maka kita harus beranggapan bahwa Ia ada (Ibrani 11:6), demikian pula
berbicara tentang Firman Allah kita harus beranggapan bahwa Ia adalah Allah
Yang Maha Kuasa sehingga Firman-Nya pun mempunyai kuasa dan wewenang yang
tertinggi (Mazmur 33:4-6; Roma 1:16). Alkitab sendiri memberikan indikasi bahwa
hakekat Allah dan firman-Nya tidak terpisahkan (Yesaya 55:11). Allah beroperasi
dan menciptakan dengan firman-Nya (Ibrani 4:12; Kej 1:3); Ia memanggil manusia
untuk percaya, memberikan misi-Nya, anugerah-Nya, pemeliharaan-Nya dan semua
tindakan-Nya melalui firman-Nya[3].
Asal-Usul Alkitab
Alkitab memberitahukan bahwa: “nubuat-nubuat dalam
kitab suci tidak boleh di tafsirkan menurut kehendak sendiri, sebab nubuat
tidak dihasilkan oleh kehendak manusia, tetapi oleh dorongan Roh Kudus orang
berbicara atas nama Allah” (2 Ptr 1:20-21). Firman Allah bukan hasil imajinasi,
inisiatif, investigasi, kontemplasi, atau refleksi para penulis tentang Allah
dan dunia, melainkan kehendak Allah melalui pekerjaan Roh Kudus yang di
nyatakan dan bukan kehendak atau ide mereka sendiri. Allah memakai manusia,
bukan instrument atau alat. Namun, Ia tidak memakai sembarang manusia, melainkan
orang-orang pilihanNya[4]. Dengan
kata lain, Allah melalui pekerjaan RohNya mendorong para penulis sedemikian
rupa, namun mereka bukannya kehilangan kepribadian atau pikiran mereka dalam
penulisan tersebut. Apabila kita meninjau kedalam Alkitab, ungkapkan
“demikianlah firman Allah” atau “dengarlah perkataan Tuhan” kerap kali di
jumpai. Daud mengaku bahwa yang di katakannya adalah firman Tuhan sebab “Roh
Tuhan berbicara dengan perantaraNya. Dengan kata lain mengenai kutipan dari
Alkitab bagi Yesus istilah “Allah” dan “Alkitab” dapat dipergunakan secara
timbal balik. Hal ini berarti bahwa apa yang di katakan Alkitab adalah firman
Allah sendiri, oleh karena Allah pengarang tunggal Alkitab itu sendiri.
Intinya, bagi Tuhan Yesus maupun para penulisan dalam PB mengutip perkataan PL
sebagai firman Allah sendiri.
Alkitab Adalah Firman Allah
Alkitab adalah buku yang sering dipertanyakan dan
menimbulkan banyak pendebatan, walaupun sering dipertanyakan atau diperdebatkan namun Alkitab tidak berkurang
kewibawaannya. Buktinya Alkitab banyak memberi isprirasi banyak orang dan
bahkan dipakai sebagai dasar untuk menyusun Undang-undang (UU yang menyangkut
masalah hukum, pemerintahan, keuangan, dll) dibeberapa negara. Hal ini
membuktikan bahwa Alkitab bukanlah buku biasa seperti buku-buku karangan orang
ternama melainkan Alkitab adalah Firman Allah. Beberapa bukti yang membuktikan
bahwa Alkitab adalah pewahyuan Allah.
·
Kesaksian Dari Para Penulis Alkitab
Para penulis PL yakin bahwa apa yang mereka sampaikan
berasal dari dan atas dorongan Allah (Kel. 4:14-16; II
Sam. 23:2; Yes. 51:16 bnd. Yes. 11:2; Yer. 1:9). Para penulis PB yakin dan
percaya bahwa PL adalah Firman Allah yang diilhamkan oleh Allah. Buktinya:
· Penulis PB yakin bahwa sejarah dan orang-orang dalam Pl nyata
(Ibr. 11; I Kor. 11:9;
15:45; I Tim. 2:13).
· Para penulis PB sering mengutip ayat PL untuk membuktikan
bahwa apa yang dikatakannya itu benar (Gal. 3:6-13; Ibr. 5:5-6 bnd. Mzm. 2:7;
110:4; I Ptr. 1:23-25 bnd. Yes. 40:6-8).
· Para Murid Yesus sering menggunakan PL sebagai bahan
khotbahnya.
· Beberapa kali ketika penulis PB menggunakan ayat-ayat PL,
meskipun PL tidak menyebutkan ayat-ayat
tsb. Difirmankan oleh Allah, penulis PB tetap mengatakan demikian.
Contoh: Roh Kudus berkata (Ibr.
3:7; Mzm. 95:7b-9); Allah berfirman (Ibr. 1:8; 45:7,8); Allah berfirman
melalui: Nabi-nabiNya ... (Mat.
1:22; Yes. 7:14; 2:15; Hosea 11:1); Kata-kata Alkitab ’tertulis’ (I Kor. 3:19;
Ayub 5:13).
· Penulis Alkitab mengatakan bahwa Firman Allah datang
kepada mereka, tetapi juga bahwa Allah memerintahkan mereka menulis (Kel.
34:27; Yer. 30:1-2; 36:1-2,4; Hab. 2:2; Why. 1:11)[5].
Penulis PB menghargai
kitab-kitab yang mereka tulis sendiri yaitu, PB sebagai Alkitab yang sederajat
dengan PL:
·
Penulis
PB menganggap bahwa tulisan mereka sama wibawanya dengan PL (II Ptr. 3:1-2; Ibr. 1:1-2; 2:3; II
Tim. 3:16; II Ptr. 1:21).
·
Para
Penulis PB yakin bahwa apa yang mereka tulis adalah Firman Allah (I Kor. 2:13;
Gal. 1:11-12; I Ptr. 1:12; I Tes. 2:13).
·
Paulus
tidak hanya menyebut PL sebagai Firman Allah tetapi menyebut PB sebagai Kitab
Suci (I Tim. 5:18 bnd. Ul. 25:4; Luk. 10:7).
·
Petrus
juga menyebut tulisan Paulus sebagai Firman Allah (II Ptr. 3:15-16).
·
Ajaran-ajaran
mereka menjadi dasar gereja mula-mula (Kis. 2:42; Efs. 2:19-20).
·
Pengilhaman
mencakup juga kata-kata bukan hanya ide atau gagasan (Kel. 31:8-11; Yer. 1:9; Kel. 32:15-16; Kej. 6:22; II Tes. 2:13-17).
·
Kesaksian Dari Kristus
a. Kristus mengakui kewibawaan dan pengilhaman Alkitab (Mat.
5:17-18; 15:3,6; 22:29; 26:54; Yoh. 10:34). Kadang-kadang orang Yahudi
menggunakan istilah Kitab Taurat hanya untuk menunjuk Pentateukh tetapi terkadang juga untuk menunjuk kepada kitab PL.
b. Kristus mengakui dan menekankan pentingnya setiap kata
dalam Alkitab (Mat. 5:18; Luk. 16;17; 18:31 Bnd. 24:44.
c. Kristus sering mengutip kitab PL untuk mengalahkan Iblis,
untuk menghadapi orang-orang yang menjebakNya, untuk mengajar murid-muridNya
dan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang sukar. Lihat Matius 4:4,7,10 = Ulangan
8:3: 6:16; 16:13; 19:4-5 = Kejadian 1:27; 2:24; 5:2. Kristus percaya bahwa
catatan-catatan sejarah dalam PL adalah benar adanya (Mark. 13:19; Mat. 19:4-5;
Luk. 17:26-27; Yoh. 3:14). Kristus menempatkan diri dibawah otoritas Alkitab:
·
Mengenai
perbuatanNya (Mat. 4:1-11).
·
Mengenai
pelayananNya (Luk. 4:17-19,21; 18:31-33).
·
Kristus
mengakui Alkitab sebagai petunjuk lengkap tentang jalan keselamatan (Luk.
16:29).
·
Kristus
menganggap bodoh dan keliru manusia yang mengabaikan Alkitab (Luk. 24:44-45).
·
Kristus
menyaksikan tentang PB yang waktu itu belum ditulis
Ia memberi banyak janji
kepada murid-muridNya bahwa PB akan ditulis, Ia akan mengirim Roh Kudus untuk
menyatakan semua kebenaran kepada mereka. Perjanjian ini dikatakan menjelang
saat-saat terakhirnya, Yoh. 16:12-14; 14:16-17; 15:26-27; 16:7, 26. Bagaimana
Roh Kudus memberi kesaksian ini ? Melalui Rasul-rasul Yohanes 15:27. Paulus
mengatakan dalam I Kor. 2:6-7, 10-13 dan apa yang dijanjikan Kristus tsb telah
digenapi.
Pandangan yang menolak ketaksalahan Alkitab
·
Induktivisme
Tokohnya: Francis Bacon. Pandangannya: ”Ilmu pengetahuan
harus dipisahkan dari Alkitab, adalah bijaksana apabila memasukkan ke dalam
iman perkara-perkara yang menyangkut
iman, sebab mustahil mencampur adukkan perkara-perkara ilahi dengan
perkara-perkara manusiawi. Jadi, Alkitab tidak bisa salah hanya dalam
perkara-perkara rohani bukan mengenal perkara sejarah dan ilmu pengetahuan.”
Akibatnya: Alkitab sulit untuk dipraktekkan dalam hal-hal jasmani, karena
bersifat rohani.
·
Materilisme
Tokohnya: Thomas Hobbes. Pandangannya: ”Mujizat-mujizat dalam kitab-kitab Injil bukanlah
kenyataan sejarah, melainkan harus mengerti
sebagai perkara rohani atau sebagai cerita perumpamaan”. Akibatnya: ”Menolak
mujizat dan tidak percaya bahwa perkara supranatural bisa terjadi dalam dunia
modern”.
·
Rasionalisme
Tokohnya: Benedict Spinoza. Pandangannya: ”Alkitab hanya berisi Firman Allah, Alkitab hanya
berwibawa dalam hal-hal yang berhubungan dengan agama, Alkitab adalah Kitab
Suci sejauh itu digunakan untuk maksud yang berhubungan dengan agama.”
·
Agnostisisme
Tokohnya:
Immanuel Kant. Pandangan: ”Moralitas manusialah yang menentukan Alkitab menjadi
Firman Allah. Moralitas menyingkirkan kebutuhan akan mujizat-mujizat”. Akibatnya : ”Standart moral manusia menjadikan ukuran apakah Alkitab
dapat dijadikan Firman Allah atau tidak[6].
KESIMPULAN
Alkitab adalah firman Allah, Firman tersebut
telah terdokumentasi sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah kitab yang
lengkap, yang dikumpulkan dari teks-teks kuno yang sudah dikanonkan. Alkitab
bukan hanya sekedar kitab dari kepercayaan orang Kristen, melainkan Alkitab
adalah firman Allah yang intrinsik, sehingga menjadi otoritas bagi iman
Kristen. Dengan demikian secara singkat dikatakan bahwa Alkitab adalah catatan
objektif dari wahyu Allah yang inskripturasinya dikerjakan oleh Roh Kudus yang
menggerakkan para penulisnya supaya berita tentang keselamatan Allah melalui
Yesus Kristus dapat disampaikan kepada semua umat manusia.
Keberadaan Ilahi adalah batu karang yang
mendasari pembelaan bagi Kitab Suci sebagai Firman Allah yang berotoritas yang
dapat dipercaya. Maka dapat disimpulkan fakta-fakta yang dapat dipertahankan
untuk menyatakan bahwa Alkitab ineran:
·
Alkitab
adalah suatu dokumen yang secara umum dapat dipercaya dan dapat dibukikan
dengan memperlakukannya seperti catatan historis lainnya.
·
Atas dasar
sejarah yang dicatat oleh Alkitab memiliki alasan yang cukup untuk mempercayai
bahwa karakter sentral Alkitab, Yesus Kristus melakukan apa yang Ia klaim telah
Ia lakukan dan dengan demikian Ia adalah benar-benar seperti yang diklaim
tentang dirinya Anak Allah yang unik.
·
Sebagai
Anak Allah yang unik, Tuhan Yesus Kristus adalah otoritas yang infalibel.
·
Yesus
Kristus bukan memikul otoritas Alkitab: Ia mengajarkanNya, bahkan sampai
mengajarkan bahwa Alkitab seluruhnya mengajarkan tanpa kesalahan dan kekal,
karena Alkitab adalah Firman Allah (Matius 5:18).
·
Alkitab
adalah Firman Allah karena Allah adalah kebenaran.[7]
Demikianlah bisa disimpulkan bahwa Alkitab
benar tanpa salah, melalui dasar dasar dan kebenaran yang sudah di jelaskan di
atas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Enns Paul.
2003. The Moody Hand
Book of Theology. Malang: Literatur SAAT
2. Montgomeri
James.2015.Dasar-dasar Iman Kristen. Surabaya: Momentum
3. Niftrik G.C Van. Dogmatika
masa kini. Jakarta: BPK Gunung Mulia
4. Prince
Derek. Dasar Iman seri 1. Jakarta:
Yayasan Immanuel.
5. Stott John. 2000Memahami Isi Alkitab Jakarta: Persekutuan Pembaca Alkitab
6. Tindas
Arnold. 2007. Inerrancy Ketasalahan
Alkitab. Jakarta: HITS
7. Trivena Ambarsari. 2002. Bibliologi: Doktrin Alkitab,
Momentum

Comments
Post a Comment