PENCIPTAAN DAN PEMELIHARAAN
Allah
adalah sumber mutlak segalanya dan kekuatan tunggal dibelakang-Nya dan
keberadaan dunia adalah kepentingan-Nya. Allah menciptakan segala sesuatunya,
namun Ia sendiri tidak diciptakan. Bagian awal kitab pentateukh mengatakan
bahwa Allah menciptakan dunia dengan firman-Nya, tanpa memakai bahan (Ex
Nihilo). Penciptaan yang dikerjakan oleh Allah menyingkapkan kekuasaan mutlak
dan ketiadaan kekuasaan serupa, seperti yang ditunjukkan oleh para nabi dalam
memperlihatkan kekuasaan Allah (Yesaya 40:17; Yeremia 4:23-26). Ada pandangan
yang menyatakan bahwa kisah penciptaan dianggap berasal dari dua sumber, yaitu
dari Priestly (P) dan Jahwist (Y) pada zaman Musa dan sisi lain
menganggapnya sebagia miologi Kanaan atau sejarah yang berpandangan bahwa
penciptaan terjadi karena perjuangan dua kekuatan dalam perebutan kekuasaan
antara Marduk dan Tiamat. Namun perlu diketahui bahwa penciptaan dipakai Allah
untuk merealisasikan kemuliaan-Nya dan untuk bersekutu dengan umat-Nya.
Setelah
penciptaan, Allah memelihara ciptaannya secara berkesinambungan melalui
berbagai proses yang telah ditetapkan-Nya yang sering disebut sebagai hukum
alam. Allah bekerja didalam dan melalui tatanan alam untuk mewujudkan
maksud-maksud yang terdapat didalam sifat pribadi-Nya seperti menetapkan
batas-batas bagi lautan (Ayub 38:10-11), mengatur cuaca (Ayub 28:26),
menciptakan angin (Amos 4:13), menetapkan jalan binatang-binatang (Ayub 39:29)
dan memberikan mereka makan dan minum (Mazmur 104:11, 21).
Satu
hal yang perlu diketahui dalam penciptaan Allah yang besar yaitu manusia sebagai
ciptaan yang berbeda dari yang lainnya, tidak hanya diciptakan oleh dan melalui
Allah tetapi didalam dan untuk Allah. Ia adalah seperti Allah karena ia dapat
dan harus mengerti dirinya hanya didalam Allah, seperti yang tidak pernah
dikatakan Allah kepada makhluk lain disaat menciptakan manusia “Baiklah kita menjadikan” demikian pula
tidak pernah dikatakan tentang yang lain bahwa manusia telah diciptakan menurut
“gambar rupa-Nya” atau “menurut gambar-Nya.
LAKI-LAKI
DAN PEREMPUAN
Laki-laki
dan perempuan adalah mahkota ciptaan sebab mereka diciptakan untuk memerintah. Allah menciptakan manusia
berdasarkan keputusan yang tegas serta tindakan yang nyata dari pihak Allah
untuk menjadikan manusia. Manusia diciptakan Allah dari debu tanah dan mengehembuskan
nafas supaya hidup. Manusia diciptakan untuk hidup dan bekerja dengan bebas
sebagai tempat bermain, meski karena dosa dunia sering menjadi penjara bagi
mereka.
Allah
memberi perintah kepada Adam untuk memberi nama kepada semua binatang sebagai
penyataan bahwa Adam bebas dari dunia dan lebih tinggi dari ciptaan yang lainnya,
sehingga Adam mencerminkan keagungan Allah atas alam semesta. Manusia diciptakan
laki-laki dan perempuan untuk menjelaskan perkawinan manusia dihadapan Allah
yaitu monogami. Perkawinan disebut sebagai sebuah perjanjian (Mal. 2:14 dan Amsal
2:17) dan gambar kasih Allah kepada umat-Nya. Kata gambar menunjuk pada
keserupaan yang dibentuk, bahwa bentuk luar seseorang mengambil bagian dalam
penggambaran Allah, sedangkan kata rupa menunjukkan pada kesamaan ketimbang
tiruan dan mirip pada sesuatu yang tidak bisa diketahui dengan kasat mata.
Didalam
alkitab terdapat beberapa kata yang dipakai untuk menunjuk pada manusia seperti
hati dan daging (Mazmur 84:2), dimana bagian tubuh tertentu dapat mewakili
seluruh kehidupan manusia. Kata jiwa (nepes) yang digunakan untuk mengungkapkan
keadaan kekurangan, roh (ruah) digunakan untuk Allah, daging (basar) digunakan
untuk binatang dan selebihnya untuk manusia, jantung atau hati (leb) mengacu
pada seseorang dan hidupnya, darah (dam) menunjukk pada hidup fisik manusia dan
binatang dan anggota-anggota tubuh untuk mengungkapkan nilai-nilai pribadi.
Comments
Post a Comment