Stress dialami oleh setiap individu dengan tidak
memandang usia dan status sosial mulai dari muda hingga yang tua. Orang yang
mengalami stress akan cenderung untuk menarik diri, menjauhi sumber tekanan
atau ketegangan atau menggunakan obat-obatan supaya meninggalkan alam sadar
dengan itu dapat melupakan masalah atau tekanan yang sedang dihadapi walaupun
pada kenyataannya itu hanya bersifat sementara saja.Stress dapat
disebabkan oleh keadaan fisik, obat-batan, mokrobioligik, fisiologik, psikis
dan emosional. Ada beberapa reaksi terhadap stress yang dilakukan oleh individu
baik secara fisiologis maupun biologis atau keadaan tubuh sendiri. Coping stress tergantung pada setiap kepribadian seseorang
bagaimanaia menghadapi hal tersebut, apakah itu dijadikannya sebagai
suatu motivasi atau sebagai hambatan untuk mewujudkan cita-citanya. Kepribadain
seseorang dibentuk melalui keluarga, lingkuan masyarakat, sekolah dan teman
kerja dapat menjadi faktor penentu seseorang dalam menghadapi stress. Apabila
stres tidak dapat diatasi dengan cepat atau dibiarkan lama sehingga lama kelamaan
akan bertambah dan akan menimbulkan berbagai penyakit bahkan bisa berujung
kematian bagi individu tersebut.Dengan mempelajari faktor penyebab stres
seseorang dapat lebih berhati-hati atau mengantisipasi, sebab satu saja yang
menimbulkan atau menyebabkan adanya stress dapat menimbulkan masalah dalam
kehidupannya. Untuk itu stress harus dihadapi secara tegas dengan
cara belajar untuk menangani stress atau mengurangi
stress hingga tingkat aman. Stress bisa melemahkan tubuh jika dibiarkan secara
terus menerus tganpa mencari solusi atau memberikan diri menghadapinya. Banyak
penelitian mengatakan bahwa cara mengatasi stress adalah latihan untuk
menghilangkan ketegangan pada tubuh seperti lari, renang dll. Humor juga
membantu orang untuk mengatasi ketegangan yang dihadapi serta adanya
penyesuaian diri atau relaksasi dan umpan balik terhadap stres.
Kata
kunci: Kepribadian, Stress, Coping,
penyakit
Latar Belakang Masalah Penelitian
Stres
dialami oleh setiap individu dengan tidak memandang usia dan status sosial[1]
yang menganggu keseimbangan hidup seseorang, namun stress membantu seseorang
untuk mencapai cita-citanya sebab dapat meningkatkan vitalitas, optimisme,
pandangan hidup yang positif, ketahanan mental dan fisik, produktivitas dan
kreativitas. Ada beraneka ragam cara setiap orang menghadapi stress seperti
menarik diri, menjauhi sumber tekanan atau ketegangan. Secara fisik orang yang
sedang mengalami stress akan menyepi, mengurung diri dan secara psikologi akan melakukan hal-hal
yang membuat dirinya senang seperti mabuk, atau menggunakan obat-obatan supaya
meninggalkan alam sadar dengan itu dapat melupakan masalah atau tekanan yang
sedang dihadapi walaupun pada kenyataannya itu hanya bersifat sementara saja. Sebagian orang menghadapi stres dengan cara mengeluh
atau mengalah yaitu bertindak secara pasif supaya semuanya tenang.
Sayle
telah melakukan penelitian (1976) bahwa tubuh manusia mengalami respons
terhadap tuntunan ekstra yang diterimanya (General
adaption syndrome atau dapat disebut GAS) respon fisik dan mental memiliki
tiga tahapan spesifik yaitu:[2]
·
Reaksi
peringatan yaitu tubuh dihadapkan pada penyebab stress, dimana orang kehilangan
arah dan bingung dalam menyelesaikan stress yang dialami sehingga tubuh
mengirim hormone-hormon untuk mempersiapkan diri melawan stress. Akibatnya
detak jantung dan pernafasan meningkat, menenggangnya otot-otot pada tubuh
untuk bertahan serta penyesuaian diri dalam sistem organ secara menyeluruh.
·
Pertahanan yaitu
hormon-hormon dalam tubuh manusia tepatnya didalam darah tetap berada
pada tingkat tinggi yang berfungsi untuk menyesuaikan diri untuk melawan stress
yang terjadi di dalam sistem organ secara menyeluruh
·
Penghabisan
yaitu tahap dimana stres tetap berlangsung, jaringan dan sistem organ tubuh
bisa rusak dalam waktu yang panjang sehingga menimbulkan penyakit bahkan
kematian.
Stress telah diimplikasikan sebagi faktor penyebab
dalam penyakit jantung, stroke, kanker, ganguan pernapasan, pengeroposan
tulang, ganguan lambung, susah tidur (insomina), ganguan psikologi (depresi,
bunuh diri), penyakit psikosomatis, ganguan pada kulit, penyakit kronis dan
rasa nyeri.
Identifikasi Masalah Penelitian
Dalam
makalah ini penulis ingin mencoba memberi pemahaman kepada setiap indidvidu apa
saja penyebab stres dan cara mengahadapi stress tersebut yang sedang dialami.
Pembatasan Masalah
Penulis membahas tentang stres dan hubungannya bagi
kepribadian seseorang dalam menghadapi stres tersebut. Karena pada umumnya
setiap manusia menghadapi stres tersebut dalam berbagai cara, baik secara
positif maupun negatif.
Rumusan Masalah
·
Stress
·
Kepribadian
·
Penangana
stress berdasarkan kepribadian
Tujuan Penelitian
Memberi
pemahaman bagimana cara menghadapi stres yang terjadi didalam kehidupan
sehari-hari.
Manfaat Penelitian
Dengan
pembuatan makalah ini diharapkan para pembaca dapat mengerti dan memahami kepribadian
manusia terhadap penanganan stress.
A. Kepribadian
1. Defenisi Kepribadian
Banyak
ahli yang telah merumuskan derfenisi kepribadian berdasarkan paradigma yang
telah diyakini dan berdasarkan teori yang dikembangkan. Kepribadian yang
merupakan corak perilaku dan kebiasaan individu yang terhimpun dalam dirinya
sendiri dan digunakan untuk bereaksi serta menyesuaikan diri terhadap segala
rangsangan baik dari luar maupn dari dalam dirinya sendiri.
Kepribadian
individu tersebut akan mengalami perkembangan secara dinamis, artinya, selama
individu masih bertambah pengetahuannya dan mau belajar serta adanya pengalaman
dan ketrampilan akan mengalami kematangan dan mantap pribadinya. Corak perilaku
individu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya dan bersifat khas artinya
pemaknaanya berbeda dari orang lain meskipun dimiliki oleh individu lainya.
Kepribadian
adalah ciri-ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas
dikaitkan dengan diri individu itu sendiri yaitu kepribadian bersumber dari
bentukan-bentukan yang diterima, baik di keluarga maupun lingkungan.Berikut
beberapa defenisi kepribadian menurut para ahli, yaitu:
· Gordon W. Wallport
Kepribadian
adalah organisasi dinamis dalam individu sebagai sitem psikofisis yang
menentukan caranya yang khas dalam penyesuaian diri terhadap lingkungan.[3]
· Krech dan Crutchfield
Kepribadaian
adalah integrase dari semua karakteristik individu ke dalam suatu kesatuan yang
unik yang menentukan dan dimodifikasi oleh usaha-usahanya dalam menyesuaikan
diri terhadap lingkungan yang berubah terus menerus
Jadi, dari defenisi diatas penulis menyimpulkan bahwa
kepribadian adalah perilaku atau tindakan individu dalam menyesuaikan dirinya
dengan lingkunganmelalui usahanya sendiri untuk dapat berinteraksi dengan
lingkungan tempat tinggalnya.
2. Perkembangan Kepribadian
Perkembangan
individu mengalami beberapa tahap pembentukan sifat-sifat kepribadiannya yang
bersifat menetap. Berikut perkembangan kepribadian menurut para ahli yaitu[4]
2.1 Harry Stack Sullivan
-
Masa
bayi: kebutuhan akan rasa aman dalam mengembangkan rasa percaya yang mendasar (basic trust)
-
Masa
kanak-kanak awal: belajar berkomunikasi
-
Pra
sekolah: mengembangkan body image
-
Usia
sekolah: mengembangkan hubungan dengan teman sebaya melalui kompetisi, kompromi
dan koorperatif
-
Remaja:
mengembangkan kemandirian, melakukan hubungan dengan lawan jenis
-
Dewasa:
saling membutuhkan dan bertanggung jawab terhdap orang lain.
2.2 Sigmun Freud
-
Tahap
oral, yaitu tahap mengambil, memeluk, menggigit, meludah dan membungkam
-
Tahap
anal (1-3 tahun), yaitu pembentukan sikap, mekanisme untuk memenuhi tuntutan id
dan realita serta ketertarikan terhadap suatu aktivitas atau objek.
-
Tahap
phallic (3-6 tahun), yaitu kesenangan dan permasalah berpusat sekitar alat
kelamin atau keinginan biologis.
-
Tahap
laten (6-12), yaitu periode lambat atau desakan seksual mengendur. Pada periode
ini juga ego dan supernego terus dikembangkan.
-
Tahap
genital (12-18), yaitu dorongan menguat dengan drastic dan pecapaian ego sudah
tercapai
-
Tahap
dewasa, yaitu menekan masa lalu terhadap perjalan hidupnya
Perbedaan kepribadian orang yang satu dengan yang
lainnya pada hakikatnya berbeda karena memiliki keunikan tersendiri. Ada
beberapa faktor yang mempengaruhi kepribadian setiap individu, adalah sebagai
berikut[5]:
-
Kepribadian
dipengaruhi oleh faktor genetik dan pengalaman hidup
-
Kepribadian
membimbing perilaku individu menuju arah tertentu
-
Teori
kepribadian berkaitan dengan perkiraan kecendrungan perilaku individu yang
sebenarnya
-
Teori
jenis kepribadian menempatkan individu dalam dimensi kepribadian tertentu
seperti dimensi ekstrover dan introver
-
Menyadari
setiap aspek kepribadian individu itu sendiri
-
Faktor
Lingkungan
Kepribadian
merupakan pola perilaku yang dimiliki subyek yang diperoleh dari faktor
pembawaan lingkungan dan lebih dinamis serta dapat diubah melalui fungsi
insentif. Ada bebrapa konsep yang berhubungan erat dengan kepribadian. Konsep
kepribadian tersebut adalah:
-
Karakter,
yaitu penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah,
baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit
-
Tempramen,
yaitu kepribadian yang berkaitan dengan determinan biologis dan fisiologis
-
Sifat-sifat,
yaitu respon yang senada atau sama terhadap sekelompok stimuli yang mirip,
berlangsung dalam kurun waktu relative lama
-
Ciri,
yaitu mirip dengan sifat namun lebih terbatas
-
Kebiasaan,
yaitu respon yang sama dan cenderung berulang untuk stimulus yang sama pula
4. Faktor Pembentuk Kepribadian
Ada
dua faktor yang membentuk kepribadian setiap individu, adalah sebagai berikut:[7]
a. Faktor Internal
Faktor
yang memperngaruhi kepribadian seseorang dari dalam yaitu herediter, pembawaan
yang diperoleh dari orang tua, namun dapat diubah melalui pelatihan khusus
(Goleman).
b. Faktor Eksternal
Faktor
yang memperngaruhi kepribadian seseorang dari luar adalah fisik, pengalaman
pada usia dini, pengaruh kebudayaan, pemberian nama atau cap pada anak,
perasaan berhasil atau gagal, keluarga (pendidikan, sikap orang tua, situasi
emosional) dan penerimaan akan lingkungan sosial
5. Tipe Kepribadian. Ada beberapa tipe kepribadian setiap individu, yaitu
sebagai berikut:
-
Ekstrovet,
yaitu mudah terbuka dan tertarik, senang bergaul dengan individu lain.
Responnya terhadap sesuatu bersifat realistas dan dapat bertingkah laku sesuai
dengan tuntunan lingkungannya serta tanggapannya secara obyektif
-
Introvert,
yaitu segala sesuatu dutanggapi sesuai dengan keadaan dirinya, menutup diri,
sangat sensitive terhadap kritik penilaian terhadap sesuatu bersifat subyektif.
-
Ambivert,
yaitu bersifat realistis atau obyektif tetapi terkadang-kadang bersifat
subyektif.
6.
Penggolongan
Manusia Berdasarkan Kepribadian. Penggolongan
manusia dapat dilihat dari kepribadiannya, yang dapat ditinjau dari dua aspek
yaitu:
a.
Aspek
Biologis
Berdasarkan
aspek biologis, Hipocrates membagi kepribadian menjadi empat kelompok besar
dengan fokus pada cairan tubuh yang mendominasi dan memberikan pengaruh kepada
individu tersebut, yaitu empedu kuning (Cholerik),
empedu hitam (melakolis), cairan
kendir (plegmatik) dan darah (sanguins).
-
Sanguins,
adalah orang yang gembira, yang senang hatinya, mudah membuat orang tertawa dan
pemberi semangat kepada orang lain, namun orang sanguin cepat bertindak sesuai dengan keinginan hati
(sesuai emosi dan keinginannya)
-
Cholerik,
adalah orang yang mengutamakan pekerjaan dan tugas, mempunyai disiplin kerja
yang sangat tinggi, melaksanakan tugas dengan penuh rasa tangung jawab, namun
kekurangan dalam merasakan perasaan orang lain (empati).
-
Melankolis,
adalah orang yang terobsesi dengan karya yang paling sempurna atau bagus dan
sangat mengerti tentang estetika dalam hidupnya, sangat sensitive, namun sangat
mudah dikuasai oleh perasaan dan mendasari hidupnya dengan perasaan murung.
-
Plegmatik,
adalah orang yang tenang, acuh tak acuh, emosinya tidak stabil, menguasai diri
dengan baik, memikirkan seuatu dengan baik, namun dia tidak mau suasah atau
sering mengambil jalan mudah dan gampang.
b.
Aspek
Psikologis
-
Faktor
genetik (tingkat aktivitas, adaptasi dan perubahan lingkungan)
-
Faktor
lingkungan (kemampuan seseorang dalam relasinya dengan orang lain)
-
Faktor
stimulasi gen dan cara berpikir (bersifat dorman atau tidur, aktif dan tidak
aktif)
B.
Stress
1. Defenisi Stres
Stres
merupakan bagian dari kehidupan manusia setiap hari yang merupakan reaksi tubuh
terhadap tuntunan dan tekanan yang ditunjukan kepadanya melalui gejala
fisiologis. Stress berasal dari berbagai situasi yang dihadapi yang penuh
dengan tuntutan dan tantangan maupun tekanan.[8]
a. KBBI
Stress
adalah ganguan atau kekacauan mental dan emosional yang disebabkan oleh faktor
luar atau ketegangan.
b. Menurut Para Ahli
· Menurut Lazarus dan Folkman (dalam Morgan 1986)
Stress
adalah keadaan internal yang dapat diakibatkan oleh tuntutan fisik dari tubuh
(kondisi penyakit, latihan dll) atau oleh kondisi lingkungan dan sosial yang
dinilai potensial membahayakan, tidak terkendali atau melebihi kemampuan
individu untuk melakukan coping.[9]
· Vincent Cornelli
Stress
adalah ganguan pada tubuh dan pikiran yang disebakan oleh perubahan dan tuntutan
kehidupan yang diperngaruhi oleh lingkungan maupun penampilan individu di dalam
lingkungan tersebut.[10]
Jadi,dari beberapa defenisi stress diatas maka
disimpulkan bahwa stress adalah ganguan atau ancaman pada individu disebabkan
oleh tuntutan fisik atau lingkungan sekitar yang bisa membahayakan potensi
dirnya.
2. Penyebab Stres
Penyebab stress setiap orang
pastinya berbeda-beda ini disebabkan oleh kegiatan atau pekerjaan keseharian
orang tersebut. Stres terjadi jika seseorang dihadapkan dengan peristiwa yang
sedang dialami atau dirasakan mengancam kesehatan dan psikologinya. Peristiwa
orang mengalami stress dinamakan stressor
dan reaksi terhadap peristiwa tersebut dinamakan respon stress.[11]Berdasarkan sumbernya stress di sebakan oleh, yaitu
sebagia berikut:
·
Penyebab
stres situsional
Penyebab
stress situasional adalah keadaan lingkungan, situasi dan budaya kontepomporer dalam
suatu masyarakat. Stress ini merupakan sebuah situasi yang tidak diketahui dan
tidak terduga, perubahan, kegaduhan, pemberitaan media yang menekan, sandang,
papan dan pangan serta beban kerja yang berat.
·
Peristiwa
besar dalam hidup
Peristiwa
ini merupakan suatu kejadian yang realita yang dihadapi manusia dalam hidupnya
sehingga berdampak pada cara hidup dan emosi. Persitiwa besar dalam hidup ini
seperti pernikahan, perceraian, kelahiran anak, penyakit, kematian, migrasi
atau imigrasi dan masalah keuangan.
·
Penyebab
stress yang disebabkan oleh orang lain
Peristiwa
stres karena orang lain yang ada disekitar kita sangat sulit untuk ditangani
sebab setiap hari melakukan interaksi atau relasi, karena berada dalam lingkup
masyarakat yang sama atau tempat kerja, sekolah dll. Peristiwa stress ini
berdampak sangat buruk bagi individu tersebut karena adanya ketidak nyaman dan
tuntutan yang tidak masuk akal.
·
Penyebab
stress dari diri sendiri
Stress
yang berasal dari diri sendiri merupakan penyebab stress terbesar dalam
kehidupan manusia. Penyebabnya adalah karena menginginkan kesempurnaan dalam
diri sendiri atau ingin lebih menonjol dari orang lain, ekspatasi akan diri
kesuksesan, kebutuhan, perasaan tidak cukup atau ketidak puasaan dan kebutuhan
untuk diterima dan dicintai orang lain.
Dengan mempelajari faktor penyebab stres seseorang
dapat lebih berhati-hati atau mengantisipasi, sebab satu saja yang menimbulkan
atau menyebabkan adanya stress dapat menimbulkan masalah dalam kehidupannya.
Untuk itu stress harus dihadpi secara tegas dengan cara belajar untuk menangani
stress atau mengurang stress hingga tingkat aman. Stress bisa melemahkan tubuh
jika dibiarkan secara terus menerus tganpa mencari solusi atau memberikan diri
menghadapinya. Untuk itu setiap invidu harus bisa mempertanyakan pada dirinya
sendiri stress yang terjadi dalam dirinya dan mengapa stress itu terjadi, apa
yang bisa dilakukan untuk mengurangi stress tersebut. Adapun
peristiwa-peristiwa yang dapat dikategorikan sebagai stress adalah:
·
Stressor
rohani (spritual)
Stressor
rohani sangatlah bergantung pada individu itu sendiri yang ditimbulkan karena
kecintaan manusia akan dirinya sendiri secara mendalam seperti kematian yang
sering membuat orang kehilangan diri sendiri atau adanya ketakutan akan
kematian. Rasa cinta atau keinginan manusia akan kemuliaan dunia ini seperti
kekuasaan, kekayaan dan penghargaan dari sesama merupak penyebab stress yang
diakibatkan diri sendiri karena terlalu memikirkan sesuatu yang sulit untuk
dicapai.
·
Traumatik
Traumatik
merupakan penyebab stress paling jelas sebab adanya situasi bahaya ekstrem yang
berada diluar rentang pengalaman manusia yang lazim. Peristiwa ini dapat
disebabkan karena adanya suatu peristiwa yang membuat seseorang mengalami
kecemasan dan kesulitan dalam berkosentrasi seperti bencana alam, gempa bumi,
pemerkosaan, pembunuhan dll. Seseorang yang mengalami traumatik masih pasif.
·
Pengendalian
Pengendalian
terhadap suatu peristiwa akan memperkecil kecemasan terhadap suatu peristiwa
yang sedang dialami walaupun sebelumnya belum pernah mengalami hal seperti itu.
Suatu peristiwa yang tidak dapat dikendalikan akan semakin besar kemungkinan
dianggap stress.
·
Perkiraan
Dapat
memprediksi suatu kejadian atau peristiwa stress walaupun orang tersebut tidak
dapat mengendalikannya, tapiakan menurunkan keparahan stress.
3. Faktor Yang Memperngaruhi Stres
Stress
terjadi karena ada penyebabnyanya atau memepengaruhinya seperti lingkungan,
diri sendiri dan pikiran.
a.
Lingkungan,
artinya sikapa lingkungan yang bersifat negative dan positif yang berdampak
pada setiap individu sesuai dengan pemahaman yang ada dalam kelompok tersebut
karena adanya tuntutan dalam dirinya. Tuntutan dan sikap keluarga serta
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa mempengaruhi atau bertolak
belakang dengan keinginan individu sehingga menimbulkan tekanan
b.
Diri
Sendiri, yaitu adanya tuntutan terhadap keinginan yang ingin dicapai serta
adanya keingin melakukan atau menyerap sesuatu secara terus menerus.
c.
Pikiran,
yaitu penilaian seseorang terhadapa lingkungannya yang berdampak pada
tindakannya
4. Dampak Stres
Stres
dialami setiap individu pada umumnya pada tingkatan dan penyebab yang tidak
selalu sama dan penangananya juga berbeda-beda, ini diakibatkan karena individu
itu sendiri dalam menanngapi hal tersebut sehingga tidak berdampak negative
dalam dirinya, namun bagi individu yang tidak bisa memahaminya akan mengalami
dampak yang buruk atau negative dalam dirnya yaitu seperti:
· Sistem perdarahan darah
Stress
membuat seorang terserang penyakit jantung karena dalam keadaan normal
memompakan darah dan memberi juga tekanan pada dinding-dinding pembuluh darah
yang bekersama dengan otak untuk menjaga kestabilan jantung tersebut. Sehingga
jikia ada beban pikiran seperti pekerjaan, keluarga dan rekan kerja akan
mengakibatkan jantung memompa darah dengan cepata sehingga mengakibatkan
tekanan darah naik karena zat-zat hormone mempercepat detak jantung. Apabila
tekanan darah terus menerus naik karena mengalami stress dalam waktu yang
panjang dan tidak ada tanggapan dalam mengatasinya maka akan membuat jantung
bekerja lebih keras mensirkluskan darah sehingga memperbesar adanya risiko
serangan jantung atau stoke.
· Sistem kekebalan
Sistem
kekebalan dalam tubuh manusia merupakan suatu sistem yang digunakan sebagai
pertahanan dalam mendeteksi dan menghancurkan kuman-kuman yang menyusup dalam
tubuh. Apabila terjadi stress maka kekebalan atau imunites akan menjadi goyah
dan menjadi rentan terhadap penyakit seperti demam, influenza dan jenis infeksi
lainya
· Asma
Dalam
kondisi yang tenang atau normal nafas manusia mengikuti sebuah pola teratur,
dimana otot didaerah dada berada dalam keadaan tenang dan paru-paru membiarkan
udara mengalir masuk dan keluar dengan bebas ketika diagfragma (sekat antara
rongga dada dan rongga perut) membuka dan menutup. Pipa saluran pernapasan
terdiri dari kantong udara kecil seperti balon atau alveolus yang
mensirkulasikan udara melalui paru-paru.
Stress
dapat menyebabkan asma sebab otot-otot dada mulai menegang, napas semakin
memburu dan napas pendek sebab dalam waktu tertentu stresa dapat mengencangkan
pipa saluran pernapasan
· Kanker
Kanker
terjadi jika sel-sel normal dalam tubuh berubah menjadi abnormal atau menjadi
sel-sel ganas yang berkembang secara tidak terkendali sehingga memakan sel-sel
normal walaupun adanya sel-sel darah putih yang dapat melawan perkembangan sel
abnormal, tapi karena berlangsung secara terus menerus seseorang mengalami
stress berat maka sel darah putih mulai berkurang sehingg adanya kemungkinan
ketidak mampuan menghancurkan sel-sel kanker yang ada di dalam diri manusia
tersebut hingga sel berubah menjadi tumor.
· Penyakit-penyakit psikosomatik
Penyakit
psikomotik adalah suatu penyakit yang dialami tubuh secara langsung karena
pengaruh pemikiran negatif yang mengurang kemampuan seseorang menangkal
penyakit sehingga mencapai kedudukan yang kuat dalam tubuh orang tersebut.[12]
a. Aspek Fisiologis
·
Kognisi
Stress dapat melemahkan ingatan dan perhatian dalam
aktivitas kognitif seseorang. Ini disebabkan karena kebisingan pada strestor
sehingga adanya defisit kognitif. Kognitif dapat berpengaruh dalam stress yang
berlangs terus menerus dan lama.
·
Emosi
Emosi
merupakan salah satu evaluasi dalam stres. Adanya reaksi seseorang dalam
mengahadapi stres seperti rasa takut, phobia, kecemasan, depresi, perasaan
sedih dan rasa ramah.
·
Perilaku
Sosial
Stres
dapat megubah perilaku individu terhadap
orang lain baik secara negatif atau positif sebab perilakunya sekarang berubah
dari perilakunya sebelumnya. Stress yang diikuti rasa marah menyebabkan
perilaku sosial negative cenderung meningkat yang menimbulkan perilaku agresif.
b. Aspek Biologis
Salye
(Sarafino. 1994) telah mempelajari akibat-akibat dari stressor yang terus
menerus muncul, sehingga kemudian mengemukakan istilah General Adaption Syndrome (GAS)yang terdiri dari rangkaian tahapan
reaksi fisiologis terhadap stressor, yaitu:
·
Alarm Reaction
Arousal yang
terjadi dalam tubuh organisme seseorang berada dibawah normal dan selnjutnya
akan meningkat diatas normal. Sehingga tubuh melindungi organisme terhadap stressor,
namun tubuh juga tidak dapat mempertahankan intesitas arousal dari dalam alarm
reaction dalam waktu yang lama atau dalam jangka panjang
·
Stage of Resistance
Arousalmasih
tinggi namun tubuh masih terus bertahan untuk melawan dan beradaptasi denganm
strestor. Respon fisiologis akanmenurun walaupn masih tetap lebih tinggi
dibandingkan dengan kondisi normal.
·
Stage of Exhaustion
Respon
fisiologis dalam tubuh masih tetap berlangsung sehingga lama kelamaan
melemahkan tubuh dan menguras energy tubuh yang mengakibatkan kelelahan dan
juga kerusakan fisiologis yang berdampak kematian.
6. Bentuk-bentuk atau Pengolangan Stres (Coping)
Apabila
ditinjau dari penyebab stress maka para ahli psikologi menggolongkan atau
mempunyai pendapat dapat dilihat dalam bnetuk sebagai berikut:
a.
Sri
Kusmiati dan desminiarti (1990)
Menurut
Sri Kusmiati dan desminiarti stre dapat digolongkan berdasarkan penyebanya,
yaitu:
·
Stress
fisik, disebkan oleh suhu atau temperature yang terlalu tinggi atau rendah,
suara bising atau tersengat arus listrik
·
Stress
kimiawi, disebabkan oleh asam-basa kuat, obat-obatan, zat beracun, hormone atau
gas
·
Stress
mokrobioligik, disebabkan virus, bakteri atau parasit yang menimbulkan penyakit
·
Stress
fisiologik, disebabkan oleh ganguan struktur, fungsi jaringan, organ atau
sistemik sehingga menimbulkan fungsi tubuh tidak normal
·
Stress
proses pertumbuhan dan perkembangan, disebabkan oleh ganguan pertumbuhan dan perkembangan pada masa bayi hingga tua
·
Stress
psikis atau emosional, disebabkan oleh ganguan relasi interpersonal, sosial
budaya dan agama.[14]
b.
Lazarus
Folkman
Lazarus
Folkman dalam sarafino pada tahun 1997, secara umum membedakan bentuk dan
fungsi stress dalam dua klasifikasi bentuk stres yaitu:
1. Stres yang berfokus pada masalah (problem-focused coping)
Stress
yang berfokus pada masalah adalah suatu strategi untuk penangan stress yang
berpusat langsung pada sumber masalah, individu menghadapi langsung sumber
masalah, mencari sumber masalah, mengubah lingkungan yang menyebabkan stress
serta berusaha untuk mencari atau menyelesaikannya sehingga stress dapat hilang
atau kurang.
2. Stress yang berfokus pada emosi (emotion-focused
coping)
Stress
yang berfokus pada emosi adalah suatu strategi penangan stress, dimana individu
memberi respon terhadap situasi stress dengan cara emosional yang diatur
melalui perilaku individu untuk meniadakan fakta-fakta yang tidak menyenangkan
apabila adanya tekanan di dalam dirinya.
a. Reaksi FisiologisTerhadap Stres
Stress
yang terus terjadi dalam pikiran seseorang dapat menimbulkan respon internal
yang mengakibatkan tubuh bereaksi terhadap stressor dengan menghayati secara
kompleks ancaman. Secara fisiologis
manusia yang sedang mengalami stress akan berdampak pada metabolism
tubuh yang meningkat sebagai persiapan untuk pemakaian energy pada tindakan
fisik (seperti adanya kecepatan: jantung, tekanan darah, pernapasan meningkat dan otot menjadi tegang). Awal
stress juga dapat ditandai juga ketika mulut kering. Respon fisiologis
bermanfaat untuk merangsang sistem simpatik apabila seseorang adaya upaya untuk
aktif mengatasi situasi stress
b. Reaksi Psikologi Terhadap Stres
Situasi
stress menghasilkan reaksi emosional mulai dari kegembiraan, kecemasan,
kemarahan kekecewaan dan depresi, oleh sebab itu stress bergantung pada setiap
individu bagaimana menyelesaikan yang sedang dihadapi sekarang.
-
Kecemasan
Kecemasan
adalah respon yang sangat umum terhadap strestor yang tidak menyenangkan yang
ditandai oleh kekhawatiran, keeprihatinan, tegang dan rasa takut yang dialami
oleh setiap manusia dalam lapisan masyarkat tanpa pandang bulu. Kecemsana
mengakibatkan hilangnya minat untuk bekerja atau beraktivitas, sulit tidur dan
sulit berkomunikasi.
-
Kemarahan
dan agresi
Kemarahan
yang dapadat mengakibatkan agresi pada seseorang merupakan tanggapan
terhadapstres yang dialami. Agresi yang terjadi pada seeorang diakibatkan oleh
frustasi, ini disebabkan olehkegagalan dalam mencapai sebuah tujuan sehingga
adanya dorongan agresif yang terinduksi untuk memotivasi manusia bertindak
dalam hal-hal yang negaatif.
-
Apati
dan depresi
Kondisi
manusia yang mengalami stress secara terus menerus tanpa adanya pengendalian
atau tindakan yang tepat untuk mengatasinya maka adanya apati yang dapat
memberat menjadi depresi pada orang tersebut. Ketidakberdayaan mengahadpi
stress maka pada diri individu tersebut adanya rasa untuk menarik diri, berdiam
diri atau tidak melakukan suatu tindakan sebagai respon terhadap perstiwa yang
tidak dapat dikendalikan.
-
Ganguan
kognitif
Adanya
ganguan kognitif yang berat jika diperhadapkan dengan stressor yang serius
akibat dari reaksi emosional terhadap stres sehingga berakibat pada proses
berpikir yang tidak konsentrasi dan tidak logis. Ganguan kognitif seseorang
tergangu disebabkan karena pikiran yang menganggu terus menerus kerja otak dan
tingkat rangsangan emosional yang mengganggu pengolahan informasi di pikiran.
8. Tingkatan Stres
Ganguan
stress pada individu biasanya lamban, tidak diketahui kapan mulainya atau
sering tidak menyadari kejadian tersebut. Stress dibagi menjadi beberapa tahap
sesuai dengan gejala yang dialami atau dirasakan oleh individu yang
bersangkutan sesuai dengan yang dikemukakan oleh Dr. Robert J. Van Amberg,
yaitu
a.
Stress
tingkat I
Stress
yang dialami individu paling ringan dan disertai dengan perasaannbersemangat
besar, penglihatan tajam tidak sebagaimana biasanya dan energy dan gugup berbelebihan, kemampuan
menyelesaikan pekerjaan lebih dari biasanya.
b.
Stress
tingkat II
Setres
berdampak tidak menyenangkan sebab mulai menghilangnya kesenangakan dan timbul
keluhan-keluahan karena cadangan energy tidak cukup sepanjang hari seperti
merasa letih, lelah, ganguan pada sistem pencernaan, jantung berdebar-debar,
perasaan tegang pada otot-otot pungung dan tengkuk serta perasaan tidak bisa
santai.
c.
Stress
tingkat III
Stress
pada tahap membuat individu mengalami keletihan dan keluhan yang mulai tampak
dan disertai gejala-gejala ganguan pada usus lebih teras (sakit perut, mulas),
otot terasa lebih tegang, perasaan tegang semakin meningkat, ganguan tidur
(suka tidur, sering terbangun malam dan suka tidur kembali disaat bangun atau
bangun terlalu pagi) dan badan terasa tidak baik serasa mau pingsan sehingga
penderita diharapkan untuk berkonsultasi dengan dokter terkecuali jika aad
kesempatan untuk beristirahat atau relaksasi untuk memulihkan suplai energi.
d.
Stress
tingkat IV
Stress
menunjukkan keadaan yang buruk sepertinya sangat sulit untuk bertahan sepanjang
hari, semua kegiatan yang dilakukan terasa sulit, hilangnya kemampuan untuk
menanggapi situasi (pergaulan sosial atau kegiatan rutin lainnya), tidur
semakin sukar, sering bangun dini hari, selalu bepikir negative, tidak
kosentarasi dalam melakukan sesuatu dan perasaan takut yang tidak dapat
dijelaskan.
e.
Stress
tingkat V
Stress
yang terjadi individu lebih mendalam karena mengalami keltihan yang mendalam,
perasaan takut yang semakin menjadi atau panik, sukar buang air besar dan
pekerjaan terasa berat dan sulit dilakukan walaupun itu mudah.
f.
Stress
tingkat VI
Stress
pada tahap merupakan puncaknya atua individu mengalami gawat darurat sehingga
cukup mengerikan karena mengalami debar jantung yang sangat amat kerasnafas
sesak tidak bertenaga, badan gemetar, tubuh dingin dan keringat bercucuran.
C.
Kepribadian dan Reaksi
1.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap pemikiran
1.1.Sanguin
Pribadi
yang gugah dan tanggap atas berbagai pengalaman yang menghebihkan dan yang
mengugah hati. Tanggapan yang disampaikan secara langsung tanpa perenungan atau
perencanaan khusus.berpikir secara tidak masuk
akal, tidak mantap, membingungkan dan dangkal serta membahas hal yang
dinilai mebosankan dibuat menarik
1.2.Kholeris
Berpikir
dengan cepat dan teliti, menggunakan tanggapan tajam dan sangat intuitif
perihal orang dan keadaan untuk mengetahui apa yang perlu diperbuat. Berpikir
secara mendalam dan cukup lama untuk menciptakan sebuah rancangan kerja tanpa
terlalu memperhatikan teori-teori yang ada.
1.3.Melankolis
Berpikir
secara mendalam mengenai segala hal, menyeluruh dan merupakan perenungan.
Pribadi kreatif, bersemangat, dipertimbangkan, dinyatakan dalam keasliannya dan
sangat teliti.
1.4.Phlegmatis
Berpikir dengan tenang,
jelas dan tanpa emosi. Mempraktekkan berbagai gagasan cemerlang orang
lainkarena mereka tidak memiliki pemikiran praktis kosong.
2.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap Emosi dan Pengendaliaanya
2.1.Sanguin
Peka
dan memiliki kehidupan emosi yang sangat kaya serta luas wacana. Emosi mudah
digerakkan hal yang mengesankan dari luar dan sering mengarah pada suasana hati. Mengalami perubahan perasaan yang cepat,
bawel, ekstrim, gambling dan tegas.
2.2.Kholeris
Cepat marah, kasar dank
eras serta tidak memiliki kepekaan dan bisa tanpa perasaan
2.3.Melankolis
Bersifat
pesimis, suka murung dan sibukkan dengan rasa sakit hati mereka sendiri.
Senantiasa meneliti diri dan memberi dorongan semangat.
2.4.Phlegmatis
Tenang
dan kuat dalam berpikir pada saat
menilai keadaan berisiko secara tenang,
membertimbangkan berbagai kemungkinan dan meilih jalan keluar terbaik.
3.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap Kehendak dan Disiplin
3.1.Sanguin
Memiliki
hati yang baik dan tidak dapat diandalkan dalam tindak lanjutnya, bertindak
spontan, mengejutkan sering
dilupakan dan dialihkan. Memiliki niat baik dalam janjinya, tetapi tidak dapat
dindalkan dalam tekadnya serta lemah kehendaknya untuk mempertahankannya.
3.2.Kholeris
Berani
mengambil resiko, menghindari tindakan aman dan biasa dan tertarik pada bahaya
dana sing. Memiliki tekad yang kuat.
3.3.Melankolis
Dalam
mengambil keputusan, memikirnya terlebih dahulu dan memperhitungkan berbagai
resikao. Karena melankolis membuat analisa berkepanjangan dari berbagai sudut
kemungkinan dan akibatnya.
3.4.Phlegmatis
Lamban,
melempem dan santai, tidak suka digangggu, tidak suka memaksakan diri atau
bersikap terburu-buru. Sekali bergerak bisa membuat perencanaan yang baik,
efesien melaksankannya dan membuktikan dirinya dapat dindalkan dalam tindak
lanjutnya walalu lebih sering mereka menjadi penonton yang tenang yang tidak
mudah digoyahkan oleh emosinya.
4.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap Relasi dengan Sesama
4.1.Sanguin
Mempunyai
relasi yang penuh kehangatan, ceria dalam berelasi dengan sesama karena menerima setiap individu
sebagaimana adanya dan tidak tergangu dengan memenuhi persyarakatan atau
kriterianya. Sikap terbuka membuatnya beradaptasi, rendah hati dan mudah memaafkan
4.2.Kholeris
Mementingkan
diri sendiri, kurang mengahrgai dan memperhatikan sesamanya. Percaya diri
berlebihan, cepat marah dan perhatian palsu untuk mencapai keinginannya.
4.3.Melankolis
Tidak memiliki banyak teman tetapi dengan siapa mereka
berteman akan mempertahankan relasi dengan setia, loyal dan dapat diandalkan.
Janjia yang diucapkan merupakan suatu hal yang terhormat baginya.
4.4.Phlegmatis
Selalu
teng walaupun didalam keadaan kacau namun bisa berlaku apatis, teledor kurang
ramah, sok pamer dan acuh tak acuh terhadap orang lain.
5.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap kepemimpinan
5.1.Sanguin
Bebas
tanpa tekanan namuan dapat digerakkan oleh kekuatan dari luar. Tidak mau diatur
oleh berbagia aturan atau ketentuan dan sangat mudah dibentuk oleh lingkungan.
Menipu diri sendiri dan orang lain untuk mengikuti jalan dimana tujuan
menghalakan cara.
5.2.Kholeris
Senang memimpin dan bisa melakukannya secara sukarela
namun menciptakan lingkungan bebas dan berkuasa sehingga dapat berbuat sesuka
hati serta menganggap rencananya paling terbaik dari orang lain.
5.3.Melankolis
Pasif
sehingga cenderung menjadi pengikut dan bukan pemimpin karena suka bekerja
dibalik layar dan sikap tidak kompromi serta tidak bertindak lebih dari yang
mereka mampu atau lakukan.
5.4.Phlegmatis
Tidak
mampu memimpin sendirian namuan cukup mampu jika diberi peran selaku pemimpin.
Mengahrgai kebebasan dan menentang perubahan.
6.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap Komunikasi
6.1.Sanguin
Ramah
dan kata-kata keluar dengan mudah, memproses gagasana secara terbuka dalam
suatu aliran yang tidak meliputi banyaknya pemikiran sebelum berbicara. Suka
gaduh, membual ramah, penuh kesan langsung dan mempesona sehingga dapat menarik
orang lain.
6.2.Kholeris
Sulit minta maaf atau mengahragai orang lain serta
berbicara dengan kasar, sarkastik, mengiris dan menyengat tanpa belas kasihan
dan keras.
6.3.Melankolis
Menahan
diri dalam berbicara kecuali saat ditanya langsung pendapatnya. Sangat akurat
dan teliti dan tidak suka memberi pesan yang keliru.
6.4.Phlegmatis
Mudah
mendengarkan orang lain karena lebih cenderung bersikap santai sehingga
memiliki orientasi sebagai konselor. Namun ada juga sikap keraguan untuk
melibatkan diri dengan masalah orang lain.
7.
Pengaruh
Kepribadian Terhadap sakit Hati
7.1.Sanguin
Mudah
melupakanmasa lalu dan hidup masa kini, yaitu melupakan hal-hal yang menyakiti
dan terus bergerak maju.
7.2.Kholeris
Pembalas
dendam atau tidak mudah mengampuni dan menjadikannya sebagai pendorong semngat
untuk bertindak pada masa yang akan datang untuk membalas kepada orang yang
berbuata salah atau tidak adil terhadapnya.
7.3.Melankolis
Pendendam
dan sulit melupakan hal-hal yang menyakiti atau menyinggungnya. Hidup dalam
kepahitan dan dendam karena tidak memberi pengampunan kepada orang lain.
7.4.Phlegmatis
Suka
berdamai, jarang marah dan tidak hidup pada masa lalu melainkan pada masa kini.
D.
Hubungan Kepribadian Dengan Penganan Stres
Setiap individu pastinya mengalami stres yang bisa
berdampak negatif dalam dirinya apabila
jika tidak bisa segera diatasi. Dalam berbagai masalah stres, individu juga
mencari atau menemukan bagaimanacara menanganinya. Adapun cara menangani stres
yaitu:
-
Mengurangi
situasi stress melalui suatu kebiasaan sehari-hari, menghindari perubahan yang
tidak diperlukan, membatasi waktu dan memofokuskan diri beradaptasi dengan stressor
dan membuat dafatar atau jadwal kegiatan sehari-hari.
-
Modifikasi
lingkungan yaitu, yaitu merubah lingkungan atau mengontrol sumber stress secara
realistis akan mengurangi stress
-
Mengurangi
respon fisiologis terhadap stress dengan cara olahraga secara teratur untuk
meningkatkan tonus otot, mengurang ketegangan relaksasi. Latihan tersebut
berguna untuk mengurangi dampak stress.
-
Nutrisi
dan energy yang dikeluarkan harus seimbang
-
Relaksai,
yaitu istirahat atau tidur dengan secukupnya supaya menenangkan mental.
Relaksasi dimulai dari pengenduran otot
diseluruh tubuh kemudian pengelolaan pernafasan, pemberian sugesti
ekdirenal.
Seseorang yang memilki corak kepribadian yang mudah
mengalami atau peka terhadap stress yaitu:[16]
·
Orang
yang bersifat hati-hati, takut gagal, takut salah
·
Workaholic:
sseorang yang senang sekali bekerja
·
Orang
yang memilki dorongan berpretasi tinggi (need for achievement)
·
Orang
yang kaku dalam proses berpikir (kurang lentur)
·
Orang
yang mengalami krisis tengah umur (middle life crisis)
Perbeadaan individual dalam menghadapai stress
disebabkan karena berbagai alasan tergantung pendekatan individual tersebut,
sehingga muncul dalam bentuk yang beraneka ragam, yaitu:
1.
Latihan
Banyak
penelitian mengatakan bahwa orang yang berlatiih gerak badan kurang mengalami
stress dan ketegangan, lebih percaya diri dan lebih bersikap optimis. Individu
yang mendapat latihan menunjukkan suatu penurunan yang berarti didalam tingkat
stress dan depresi.
2.
Relaksasi
Penyesuaian
diri terhadap badan merupakan suatu tanggapan stress dalam menyuesuaikan diri
sehingga adanya penyesuaian relaksasi.
3.
Humor
Humor
adalah salah satu cara dalam menghadapi stress karena bisa membuat orang
tertawa dan bisa melupakan apa yang sedang dialaminya atau mencairkan suasana
yang beku dalam situasi tertentu.
4.
Umpan
balik Bio (Biofeedback)
Umpan
balik bio memiliki peran penting dala memanajemen stress karena mempertunjukkan
pada pengguna bahwa tanggapan fisiologis dapat dikontrol secara sukarela bahwa
stress terjadi dalam kenyataanya mendapatkan fisiologis, serta memberi
penguatan bagi pengguna melihat kemajuan yang dibuat sepanjang waktu.
KESIMPULAN
Jadi, Kepribadain memiliki keunikan atau kekhasan yang
berbeda-beda antara individu yang satu dengan yang lain, karena setiap individu
memiliki style untuk berpikir dan berperilaku yang konsisten dalam menghadapi
lingkungan yang berbeda-beda sehingga setiap individu dapat beradaptasi, yaitu
menyesuaikan diri dengan lingkungan hidupnya. Dengan mempelajari faktor penyebab stres seseorang dapat
lebih berhati-hati atau mengantisipasi, sebab satu saja yang menimbulkan atau
menyebabkan adanya stress dapat menimbulkan masalah dalam kehidupannya. Untuk
itu stress harus dihadpi secara tegas dengan cara belajar untuk menangani
stress atau mengurang stress hingga tingkat aman. Stress bisa melemahkan tubuh
jika dibiarkan secara terus menerus tganpa mencari solusi atau memberikan diri
menghadapinya. Banyak penelitian mengatakan bahwa cara mengatasi stress adalah
latihan untuk menghilangkan ketegangan pada tubuh seperti lari, renang dll.
Humor juga membantu orang untuk mengatasi ketegangan yang dihadapi serta adanya
penyesuaian diri atau relaksasi dan umpan balik terhadap stres.
DAFTAR
PUSTAKA
· Atkinson
L. Rita & Dkk. 2010. Pengantar
Psikologi..Gedung Karisma: Interkasara
·
Jackman
Ann. 2003. How To Get Things Done. Erlangga:
PT Gelora Aksara Erlangga
·
Suharjo
B. Cahyono. 2008. Gaya Hidup dan Penyakit
Modren. Yogyakarta: Knisius.
·
Bob
Losyk. 2007 Kenalikan Stres Anda.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama..
· Mulianti
Widanarti, Spsi, M.Psi. 2005. 5 Detik
Langsung Tahu Kpribadian Lawan Bicaramu Yoyakarta: PT Suka Buku
·
Mark
Parkinson. 2004. Memahami Kuesioner
Kepribadian, Solo: Tiga Serangkai
·
Kuntjojo.2009.
Psikologi Kepribadian, Kediri:
Pendidikan Bimbingan Universitas Nusantara PGRI Kediri
·
Prof.
Dr. James J. Spillane, S.J. 2003. Pedoman
Praktis Pengelolaan Waktu. Yogyakarta: Kanisius.
·
Rita L Atkinson & Dkk. 2010. Pengantar Psikologi..Gedung Karisma:
Interkasara
·
Indri
Kemala Nasution. 2007. Stres Pada
Remaja(USU Repository 2008)
·
Sunaryo.
2004. Psikologi Untuk Keperawatan Jakarta:
Ikapi
·
Indri
Kemala Nasution: Stres Pada Remaja, 2007 (USU
Repository 2008)
·
http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/19871/Chapter%20II.pdf?sequence=4
·
Haryyanto,
Kepribadian, jurnal
·
http://library.usu.ac.id/download/fk/132316815(1).pdf
[1]Suharjo B. Cahyono. Gaya Hidup dan
Penyakit Modren. Yogyakarta: Knisius. 2008 (hal
156)
[2]Bob Losyk. Kenalikan Stres Anda.
Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2007. (hal.13-14 )
[3]Kuntjojo, Psikologi Kepribadian, Kediri: Pendidikan Bimbingan Universitas
Nusantara PGRI Kediri 2009 (hal 7)
[4]https://susiariyanti.files.wordpress.com/2010/03/kepribadian.pdf
[5] Mark Parkinson, Memahami Kuesioner Kepribadian, Solo:
Tiga Serangkai, 2004(hal 13)
[6]Kuntjojo, Psikologi Kepribadian, Kediri: Pendidikan Bimbingan Universitas
Nusantara PGRI Kediri 2009 (hal 9)
[7]Haryyanto, Kepribadian, jurnal
[8]Prof. Dr. James J. Spillane, S.J.
Pedoman Praktis Pengelolaan Waktu. Yogyakarta: Kanisius. 2003 (hal. 53)
[9]http://library.usu.ac.id/download/fk/132316815(1).pdf
[10] Sunaryo, Psikologi Untuk
Keperawatan, EGC: IKapi, 2004 (hal 215)
[12]Bob Losyk, Kendalikan Stres Anda, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007)
hal 15-21
[13]Indri Kemala Nasution: Stres Pada
Remaja, 2007 (USU Repository 2008)
[14]Sunaryo, Psikologi Untuk Keperawatan (Jakarta: Ikapi ,2004) hal215
Comments
Post a Comment