Dalam
kamus Besar Bahasa Indonesia kemenangan adalah; dapat mengalahkan, mendaptkan
hasil dan dapat melebihi musuh, lawan, ataupun saingan. Kemenangan diperoleh
setelah melakukan perjuangan yang berat. Kemenangan merupakan hal yang dirindukan
oleh semua orang, mereka
berjuang untuk mendapatkan kemenangan tersebut dalam bidang apapun yang sedang
diinginkan, sebab ada kebahagiaan
tersendiri ketika seseorang mendapatkannya.
Menang
atas maut adalah sebuah kalimat yang kedengarannya mustahil, bagaimana
seseorang dapat mengalahkan maut dan menang atasnya ? Bagaimana manusia dapat
mengingkari kodratnya di dalam maut ? Apakah seseorang dapat lari darinya ?
Tidak bisa disangkal bahwa maut adalah hal yang paling tidak bisa dihindari
oleh manusia, maut bisa menjemput siapa saja, dimana saja, kapan saja dan
bagaimanapun caranya.
Kata
maut di dalam Alkitab dapat dihubungkan dengan apa saja, salah satunya kata
maut dihubungkan dengan upah dari setiap dosa-dosa yang dilakukan oleh manusia
(Roma 6:23). Sedangkan tidak ada satupun manusia yang tidak pernah melakukan
dosa (Roma 3:23), maka dapat dikatakan bahwa secara otomatis semua manusia
berjalan menuju kepada maut. Manusia tidak dapat menyelamatkan dirinya atau
lari dari maut, manusia menjadi tunduk kepada maut. Maut berarti berpisah
dengan Allah dan berada dalam penghukuman yang kekal.
Tidak
ada jalan untuk manusia bisa menang atas maut karena manusia tidak mampu
membebaskan dirinya sendiri dari setiap dosa-dosa yang ada. Manusia memiliki
natur dosa dan tanpa pertolongan dari pihak yang lebih kuat daripada manusia
maka manusia tidak akan pernah terlepas dan akan tetap berada di dalam maut dan
tunduk kepadanya untuk selama-lamanya. Namun kasih Allah menyediakan jalan
(Yohanes 3:16) supaya manusia dapat menang atas maut karena kasih Allah. Hal ini bukan berarti
manusia tidak akan mengalami kematian, hal yang dimaksud disini adalah kematian
kekal dalam penghukuman.
Jalan
yang Allah sediakan adalah hal yang tidak bisa dipikirkan oleh kita sebagai manusia,
yaitu dengan cara inkarnasi “di
dalam daging’’ (Yohanes 1:14). Hal ini dapat
diartikan bahwa Putera Allah menjadi
seorang manusia, melalui kelahiran dari seorang anak dara. Yesus
tetaplah selamanya Allah yang tidak bercacat cela, dan demikian keadaannya dari
sejak kekekalan, Ia memiliki kebenaran dan disisi lain Ia adalah manusia yang
tidak berdosa dalam satu pibadi untuk selamanya (Filipi 2:7-8; 1 tim 3:6).
Kemanusiaan
Kristus dibuktikan dengan kelahiranNya (Matius 1:18-25), Ia memiliki tubuh
daging yang sesungguhnya dan darah (Yoh 19:1, 18, 28), Ia memiliki perkembangan
yang normal (Luk. 2:52) dan Ia juga memiliki karakteristik keberadaan manusia,
seperti lapar (Mat 4:2), lelah (Yoh.4:6) dan haus (Yoh 4:7). Sedangkan di sisi
lain Yesus Kristus secara mutlak
setara dengan Bapa dalam Pribadi dan karya-Nya. Kristus adalah ilahi yang tidak dapat dikurangi. Yesus
sebagai pribadi yang ilahi berarti Dia; kekal (Yoh 1:1), maha tau (Yoh 2:25;
Yoh 4:18), maha kuasa (Mat 28:18; mrk 2:5,7 ,10), mengampuni dosa (Markus
2:1-12), dan juga pembuat mujizat. Kemanusiaan dan keilahian Kristus tidak
dapat dipisahkan. Ia adalah Allah sepenuhnya dan manusia sepenuhnya, dua natur
yang berbeda dalam satu pribadi.
MisiNya
di dalam dunia untuk membebaskan manusia dari dosa dalam keilahian dan
kemanusiaanNya adalah dengan mati karena dosa-dosa manusia, dikuburkan dan
dibangkitkan pada hari yang ke-3, dan olehNya maka kita ditebus dan dibenarkan
dari segala dosa sehingga kita mampu untuk kembali membangun relasi dengan
Allah dan dibebaskan dari setiap belenggu dosa. Kematian dan kebangkitan Yesus
Kristus pada hari yang ke-3 adalah bukti kemenanganNya atas maut, maut tidak
berkuasa atasNya (Rom. 6:9)
Dengan
demikian kita sebagai orang yang percaya juga harus mengambil bagian dalam
kematianNya, yaitu dengan menyalibkan kehidupan lama yang kita miliki, supaya
tubuh dosa kita kehilangan kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi
kepada dosa dan lepas dari hukuman maut. Ketika
kita menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematiaanNya, maka kita juga
menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitanNya (Roma 6:5).
Kebangkitan-Nya
berarti kemenangan-Nya atas maut, maut dan kematian tidak lagi berkuasa tetapi
telah dikalahkan oleh Yesus, demikian juga bagi kita yang percaya memperoleh
kemenangan atas maut. Kemanangan atas maut berarti bebas dari maut yang adalah
upah dosa dan meraih kemenangan atas keinginan daging dan berjalan dalam
kehidupan yang dipimpin oleh Roh kudus. Kemenangan ini membuat kita sebagai
orang-orang percaya juga harus memiliki perspektif bahwa kematian secara
jasmani adalah sebuah keuntungan dan bagi orang-orang percaya tidak ada lagi
maut sebagai hukuman orang percaya.
‘’ Maut telah ditelan dalam kemenangan. Hai maut
dimanakah kemenanganmu ? Hai maut, dimanakah sengatmu?’’
1
Korintus 15:54b-55
Comments
Post a Comment